Senin , 30 October 2017, 22:27 WIB

Masyarakat Mandiri dari Rumah Berdikari

Red: Muhammad Hafil
Muhammad Hafil/Republika
Darmin (37 tahun) seorang perajin miniatur perahu mainan tradisional di Rumah Berdikari, Desa Karangsong, Kabupaten Indramayu, sedang membuat perahu mainannya.
Darmin (37 tahun) seorang perajin miniatur perahu mainan tradisional di Rumah Berdikari, Desa Karangsong, Kabupaten Indramayu, sedang membuat perahu mainannya.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Muhammad Hafil/Wartawan Republika.co.id


Cuaca terik menjelang siang itu tak menghalangi para perajin di bengkel pembuat mainan miniatur perahu tradisional khas Indramayu di Rumah Berdikari, Desa Karangsong, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, akhir pekan lalu. Para perajin tengah sibuk menyelesaikan pesanan dari 31 camat yang ada di Kabupaten Indramayu. Perahu mainan yang sudah jadi akan dipajang di masing-masing kantor camat tersebut. Butuh waktu satu hingga dua pekan untuk menyelesaikan satu unit miniatur perahu mainan tradisional itu.

Salah satu perajin, Darmin (37 tahun), terlihat sedang mengasah pisau yang akan digunakan untuk mengukir perahu. Bahan baku perahu berasal dari limbah kayu jaran yang sudah tidak digunakan oleh kilang Pertamina RU VI Balongan. Limbah itu memang bisa dimanfaatkan untuk pembuatan miniatur perahu tradisional tersebut.

Ada enam jenis miniatur perahu tradisional yang dipesan, yaitu, konthing, kolek, soto, dorit, jegong, tembon, dan sope. Yang sedang dibuat Darmin adalah miniatur perahu jenis konthing. Untuk satu unitnya, bisa dijual 500 ribu hingga 3 jutaan, bergantung pada tingkat kerumitan pembuatan.  “Alhamdulillah, saya bisa mendapat untung dari pembuatan perahu-perahu mainan tradisional ini,” kata Darmin kepada Republika.co.id.

Darmin sudah bergabung selama enam bulan di bengkel pembuat perahu mainan ini. Bengkel mainan perahu ini merupakan salah satu unit usaha dari Rumah Berdikari yang terwujud atas kerja sama masyarakat yang mendapatkan bantuan dari corporate social responsibility Pertamina sejak setahun terakhir.

Alasan Darmin bergabung karena ia tak ingin perahu-perahu tradisional khas Indramayu yang sekarang sudah kalah dengan kapal-kapal modern untuk melaut dilupakan sama sekali oleh warga Indramayu. Karena itulah, sebagai mantan nelayan yang pernah melaut dengan kapal-kapal tradisional itu, dia mencoba melestarikannya dengan membuat miniaturnya. “Rumah Berdikari ini mewadahi kami untuk menyalurkan keinginan kami,” kata Darmin.

Pengelola Rumah Berdikari Abdul Latief menjelaskan soal Rumah Berdikari ini. Menurut dia, Rumah Berdikari menjadi pusat informasi mengenai kawasan pesisir laut dan juga pengolahan mangrove. Ide pembentukan Rumah Berdikari ini berawal dari kegiatan yang dilakukan oleh Pertamina dalam mengembangkan mangrove di Pantai Karangsong sejak 2008 lalu. Awalnya, pada saat itu terjadi kebocoran minyak di Indramayu dan wilayah Karangsong termasuk yang paling terdampak pencemaran.

Sebagai bentuk tanggung jawab terhadap pemulihan lingkungan, Pertamina gencar melakukan penanaman dan konservasi di kawasan tersebut. Upaya tersebut telah mendorong kawasan konservasi mangrove Karangsong berkembang menjadi kawasan ekowisata hingga oleh pemerintah dinobatkan sebagai sentra pengembangan mangrove di wilayah barat Indonesia.

Pada 2017 awal, Abdul Latief yang memang sudah ikut bekerja sama dengan Pertamina dalam upaya pemulihan mangrove itu mengusulkan agar dibuat sebuah rumah singgah yang tujuannya sebagai pusat informasi dan kegiatan masyarakat yang menjadi pegiat pemulihan mangrove. Namun, ternyata Pertamina memiliki konsep Rumah Berdikari. “Alhamdulillah, sudah beberapa bulan ini terealisasi,” kata Latief.

Di sini, peranan Pertamina dalam mengembangkan Rumah Berdikari dalam bentuk membantu bangunan tempat Rumah Berdikari dari segi fisik. Sedangkan, dari segi pengembangan sumber daya manusia (SDM), Pertamina memberikan berbagai pelatihan mengenai keorganisasian, manajemen, kemasan, dan termasuk banyak alat-alat untuk kegiatan kerajinan.

Sekarang, ada 30-an orang masyarakat yang berlatar belakang nelayan, perajin, budayawan, dan ibu-ibu rumah tangga yang menjadi pegiat. Jadi, Rumah Berdikari ini menjadi semacam tempat bengkel perajin, diskusi budaya, penelitian, dan pusat informasi tentang mangrove dan masyarakat pesisir.

Di dalamnya termasuk ada informasi tentang ekologi, budaya, dan kerajinan masyarakatnya, termasuk bengkel pembuatan miniatur perahu mainan tradisional khas Indramayu. “Jadi, ada fungsi edukasi di sini,” kata Latief.
Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Rumah Berdikari ini kerap dikunjungi oleh banyak peneliti berbagai kampus yang ingin meneliti tentang kelautan dan masyarakat pesisir Indramayu.

Bahkan, beberapa waktu lalu, sejumlah duta besar negara-negara asing di Indonesia mengunjungi tempat ini untuk mengetahui potensi pesisir Indramayu. Selain itu, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) yang berada di bawah naungan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) juga mengunjungi tempat ini.

Mereka ingin melakukan studi banding tentang pengelolaan mangrove yang menjadi andalan produk Rumah Berdikari. “Mangrove itu kan tidak hanya tumbuh di Indonesia, tetapi juga di negara-negara lain. Tetapi, ada negara seperti Ekuador enggak bisa mengolahnya, makanya mereka belajar ke sini,” kata Latief.

Rumah Berdikari ini memang telah menghasilkan 100 produk dalam bentuk makanan, minuman, kecantikan, dan obat yang diolah dari mangrove. Namun, yang dijual ke pasaran hanya 16 karena baru itu yang memenuhi standar izin perdagangan.

Hampir setiap hari para pegiat di Rumah Berdikari yang jumlahnya mencapai 30 orang dari berbagai latar belakang membuat olahan dari tanaman mangrove yang berasal dari pesisir Desa Karangsong. Mereka mengambil mangrove tanpa merusak tanamannya. Mangrove yang diambil harus memenuhi persyaratan ketat, di antaranya adalah usia yang sudah matang dan yang diambil hanya pucuk daunnya.

Kreativitas warga


Senior Officer CSR Pertamina RU VI Cecep Supriyatna menjelaskan, Rumah Berdikari merupakan pengembangan dari pembinaan ekowisata mangrove Karangsong. Dari mangrove itu, warga bisa mengolahnya menjadi banyak produk.

Karena itu, Petamina berpikir agar program CSR membuat warga kreatif dan mandiri. “Di Rumah Berdikari itu, kami ingin membantu masyarakat yang tidak punya tempat untuk mengolah hasil mangrove. Silakan memasarkan di sini,” katanya.

Menurut Cecep, dari hasil pantauan selama beberapa bulan terakhir, Rumah Berdikari bisa menguntungkan masyarakat yang memiliki kreativitas. Sebab, mereka bisa menyalurkan potensinya di sini.

Ke depannya, Pertamina tengah menyiapkan kurikulum mengenai pemeliharaan mangrove. Saat ini, sudah ada 11 sekolah di Indramayu yang sudah mengadopsi kurikulum yang telah mendapatkan persetujuan dari dinas pendidikan setempat. “Ke depannya, kami berharap pelajar yang telah belajar tentang pemeliharaan dan pengolahan mangrove bisa menjadi aktivis-aktivis penjaga mangrove,” kata Cecep.