Kamis , 17 April 2014, 13:56 WIB

Dahlan Ultimatum Pertamina dan PLN

Red: Nidia Zuraya
Republika-Aditya Pradana Putra
Dahlan Iskan
Dahlan Iskan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri BUMN Dahlan Iskan mengultimatum PT Pertamina dan PT PLN untuk secepatnya membuat kesepakatan perjanjian jual beli listrik pada sembilan lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) atau proyek geothermal yang sedang dikerjakan Pertamina.

"Jika dalam sepekan belum ada kepastian jual beli listrik, maka akan diberi sanksi tegas," kata Dahlan, usai menggelar Rapat Pimpinan Kementerian BUMN, di Jakarta, Kamis (17/4).

Dahlan mengaku sudah tidak sabar, karena itu Dirut Pertamina dan PLN harus menghilangkan ego masing-masing, supaya proyek ini bisa diselesaikan. Menurut Dahlan, hingga kini proyek geothermal yang sangat dibutuhkan rakyat untuk menambah pasokan listrik ini tersendat puluhan tahun, belum juga selesai karena terkendala soal kesepakatan harga.

Berdasarkan catatan, 9 proyek geothermal tersebut yaitu PLTP Lumut Balai 1-2 110 MW (Sumatra), PLTP Lumut Balai 3-4 110 MW (Sumatera), PLTP Ulu Belu 110 MW, PLTP Lahendong 40 MW (Manado), PLTP Kamojang 30 MW (Jabar), PLTP Kota Mobagu 40 MW (Sulut), PLTP Hulu Lais 110 MW (Sumatera), PLTP Sungai Penuh 55 MW (Sumatra), dan PLTP Karaha 50 MW (Jabar).

Proyek geothermal dengan investasi sekitar Rp 15 triliun dengan kapasitas 600 megawatt (MW) itu sempat mangkrak karena belum harga jual yang kunjung mencapai kesepakatan.Pertamina ingin menjual listrik dengan harga tinggi yakni 9,7 sen dolar AS per kwh, sedangkan PLN menawar dengan harga rendah yakni 9,1 sen dolar AS per kwh.

Dahlan yang juga mantan Dirut PT PLN ini menjelaskan, bahwa sesungguhnya tidak ada alasan untuk menunda perjanjian jual beli. Potensi Indonesia di bidang geothermal terbesar di dunia, Pertamina ada uang untuk membangun, PLN bisa sebagai pembeli, dan listrik dibutuhkan seluruh masyarakat se-Indonesia.

"Dirut Pertamina dan Dirut PLN itu mempertahankan sikap masing-masing, saling bertahan. Akibatnya memalukan sekali jika proyek pembangkit listrik ini tidak kunjung selesai," tegasnya.

Sumber : Antara