Selasa , 12 Agustus 2014, 20:12 WIB

Hulu Citarum Terancam Menyusut Akibat Perusahaan

Red: Muhammad Hafil
Republika/Edi Yusuf
Air bercampur limbah keluar dari sebuah selokan yang bermuara ke Sungai Citarum di daerah Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Rabu (26/2).
Air bercampur limbah keluar dari sebuah selokan yang bermuara ke Sungai Citarum di daerah Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Rabu (26/2).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Hulu sungai Citarum di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, terancam menyusut diduga akibat perusahaan pertambangan Chevron Geothermal Indonesia Limited.

Ketua Pembina Yayasan Komunitas Pencinta Alam dan pemerhati lingkungan hidup Agus Deni kepada wartawan di Bandung, Selasa, mengatakan, hulu sungai Citarum terancam menyusut akibat pertambangan Chevron Geothermal Indonesia Limited. Hutan sekitar rusak sehingga resapan air terganggu.

Ia menjelaskan, mata air hulu sungai Citarum semakin menyusut karena hutan sebagai daerah resapan air tersebut berubah menjadi kawasan pertambangan miliki Chevron Geothermal Indonesia Limited, sehingga mengancam persediaan air dihilir. Dampaknya keseimbangan alam terganggu.

"Chevron Geothermal Indonesia Limited, pengelola panas bumi milik Amerika Serikat yang beroperasi di Desa Cihawuk, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, diduga belum memiliki ijin beroperasi dari Pemerintah Kabupaten Bandung, sehingga perlu dikaji," katanya.

Chevron Geothermal Indonesia Limited, harus memperhatikan lingkungan terutama di hulu sungai Citarum, kata dia, jangan hanya mengeruk hasil bumi.

Sementara itu Wahyu salah seorang petani setempat mengaku, persediaan air di daerah hulu sungai Citarum semakin berkurang, sehingga terancam kekeringan, padahal sebelumnya kebutuhan air tersebut melimpah.

Kegiatan pertambangan Chevron Geothermal Indonesia Limited, kata dia, sangat merugikan bagi petani jika persediaan air terancam, haparannya pemerintah segera bertindak dan mengkaji kebijakan supaya petani setempat tetap bisa menanam.

Sumber : Antara