Kamis , 25 October 2012, 17:42 WIB

Infrastruktur Jadi Kendala Pengembangan LNG Mini

Red: Taufik Rachman
Kilang LNG Arun, Aceh
Kilang LNG Arun, Aceh

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Kondisi infrastruktur seperti jalan raya di sebagian besar di wilayah Indonesia yang relatif kecil menjadi salah satu kendala dalam rencana pengembangan teknologi gas alam cair berskala kecil atau "mini scale liquified natural gas".

"Umumnya jalanan di Indonesia relatif kecil, berbeda dengan negara 'continent' yang jalannya lebar-lebar," kata Deputi Pengendalian Operasi BP Migas Gde Pradnyana di Kuta, Kamis.

Menurut dia, LNG mini itu merupakan salah satu solusi alternatif bagi Indonesia yang banyak memiliki cadangan gas dengan kapasitas kecil namun cukup membantu bagi kontribusi kebutuhan gas bagi masyarakat.

Potensi itu tersebar di sejumlah titik di Indonesia yang memiliki wilayah cukup luas dengan ribuan kepulauan dan banyak memiliki laut dalam.

LNG mini, lanjut Gde, tak hanya menghubungkan antarapulau di Tanah Air, melainkan bisa menghubungkan antaradaerah tanpa pipa sehingga mampu menekan biaya menjadi lebih murah.
Untuk itulah diperlukan adanya infrastruktur yang memadai guna mendukung teknologi baru dalam distribusi gas tersebut.

"Mini LNG itu bisa terapung di atas kapal, bisa juga di darat. Potensi cadangan gas yang kecil itu bisa mulai 15 hingga 50 juta standar kubik kaki per hari," katanya.
Apabila masih dikelola secara konvensional, maka potensi tersebut tidak memungkinkan untuk bisa diperoleh.

Pengembangan gas alam cair berskala kecil itu merupakan pilihan untuk menjadi moda transportasi gas dengan didukung teknologi yang kini berkembang cukup pesat.

Sebuah perusahaan perkapalan asal Korea atau Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME) telah melakukan kerja sama riset mengenai mini LNG itu dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya sejak tahun 2009.

Dalam "workshop" pengembangan teknologi mini LNG di Kuta, Kamis (25/20), diperkenalkan riset terkait teknologi itu di antaranya mengenai keselamatan, penghilangan gas karbondioksida (CO2), desain kapal LNG, dan regulasi.

Selain tentunya untuk kebutuhan ekspor, adanya teknologi untuk memperoleh gas dengan potensi kecil itu juga bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri mengingat total ekspor gas lebih besar dibandingkan distribusi di dalam negeri.

Total ekspor gas Indonesia menurut Gde, sebanyak 54 persen ke beberapa negara termasuk Malaysia, dan Singapura, dari total produksi gas sekitar 8.300 juta standar kubik kaki per hari-mmscfd.

Sumber : antara

Berita Terkait