Jumat , 08 September 2017, 11:14 WIB

PGN: Indonesia Belum Butuh Impor dalam Waktu Dekat

Rep: Halimatus sadiyah/ Red: Winda Destiana Putri
Dokumen PGN
PGN
PGN

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Head of Marketing Perusahaan Gas Negara (PGN) Adi Munandir mengungkap kondisi neraca gas bumi saat ini dalam posisi surplus. Karenanya, ia memastikan Indonesia tidak membutuhkan impor dalam waktu dekat.

Adi menjelaskan, pada 2017, ada 63 kargo Liquefied Natural Gas (LNG) yang belum memiliki pembeli (uncommitted cargo). Kemudian, pada 2018, jumlah uncommitted cargo hanya berkurang sedikit menjadi 60 unit.

"Tahun depan ada beberapa sumur yang bisa produksi dan kita sedang cari pembelinya. Nah ini kita prioritaskan untuk dalam negeri," ujar Adi, saat memberikan materi dalam seminar ''Efisiensi Gas Industri Tanpa Harus Impor'' yang diselenggarakan Forum Wartawan Industri (Forwin) di Grand Diara Hotel Bogor, Kamis (7/9).

Dalam industri gas, sebuah sumur baru berproduksi jika sudah ada kontak jual beli. Melihat jumlah sumur yang berpotensi untuk produksi, Adi memastikan sampai 2018 mendatang neraca gas bumi masih dalam posisi surplus.

PGN memperkirakan, defisit baru akan terjadi pada 2019 dengan asumsi ada lonjakan permintaan gas yang signifikan dari PLN, dari semula hanya 51 kargo pada 2018 menjadi 112 kargo pada 2019. Namun begitu, kata Adi, besaran demand dari PLN tersebut bisa saja meleset sehingga kondisi defisit dapat mundur.

Jika konsumsi gas menurun, PGN memprediksi defisit dapat mundur hingga paling tidak pada tahun 2023 mendatang, tergantung pada posisi pasokan dan permintaan. Saat ini saja, lanjut Adi, konsumsi gas domestik mengalami perlambatan karena aktivitas produksi di industri yang cenderung melambat. Hal ini lah yang akan menyebabkan adanya koreksi dalam neraca gas bumi di tahun-tahun mendatang.

Pengamat kebijakan publik Agus Pambagio mengkritik kondisi neraca gas bumi nasional yang datanya tidak akurat. Hal ini, kata dia, membuat pemerintah sulit membuat perencanaan yang tepat di sektor industri.

Agus menyarankan pemerintah untuk menyusun masterplan gas bumi yang terintegrasi sehingga pembangunan industri gas dapat terkoneksi dengan baik. "Kalau itu tidak dilakukan, (masalah) tidak akan pernah selesai. Seperti sekarang, gas ada di timur tapi kita bangun di barat," ujarnya.

Sumber : Center