Selasa , 06 Juni 2017, 21:54 WIB

Pengguna Gas PGN di Jatim Didominasi Rumah Tangga

Red: Dwi Murdaningsih
foto istimewa
Petugas PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) sedang memasang jaringan pipa gas bumi. ilustrasi
Petugas PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) sedang memasang jaringan pipa gas bumi. ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Penggunaan gas yang disalurkan Perusahaan Gas Negara (PGN) di Jawa Timur masih didominasi kalangan rumah tangga yakni 27.170 pelanggan, 209 pelaku komersial dan 475 dari pengguna bidang industri di provinsi itu.
Sekretaris Perusahaan PGN Santiaji Gunawan mengatakan dominasi dari rumah tangga secara nasional tercatat 165.392 pelanggan dari total 168.973 pengguna gas.

Berikutnya 1.929 pelanggan sektor UMKM, komersial, hotel, rumah sakit, restoran, hingga rumah makan, serta 1.652 industri manufaktur berskala besar dan pembangkit listrik. "Penggunaan gas bumi untuk kebutuhan rumah tangga memang banyak memberikan manfaat, salah satunya lebih hemat dan aman dibanding bahan bakar lainnya," katanya.

Meski demikian, masih banyak masyarakat yang ragu untuk menggunakan gas karena belum tersampaikannya informasi secara utuh akan manfaat dari penggunaan gas bumi tersebut. "Oleh karena itu akan kami dorong, sebab gas bumi merupakan energi baik yang memberikan banyak manfaat, dan kami terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat khususnya ibu-ibu rumah tangga," kata Santiaji.

Santiaji mengaku selama ini tidak pernah terjadi insiden terkait penyaluran gas bumi dan masyarakat dapat nilai tambah dari penggunaan gas bumi yang hemat, praktis dan aman. "Sebagai contoh, PGN telah melayani penyaluran gas bumi rumah tangga di Kota Cirebon sejak tahun 1974 atau sudah 43 tahun dan rumah susun Kebon Kacang, Jakarta sejak 1981 atau sudah 36 tahun dan Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa," katanya.

Sementara salah satu pengguna gas PGN di Sidoarjo, Novayanti Rahman (52) mengaku merasa lebih untung menggunakan gas bumi PGN, karena terbukti mampu mengurangi biaya produksi hingga 60 persen. Pengusaha kuliner Soto Banjar ini mengatakan awalnya hanya mengandalkan elpiji 3 kg untuk memasak bahan-bahan pelengkap Soto Banjar seperti ketupat, ayam hingga kuah soto karena belum ada jaringan gas bumi PGN di Sidoarjo.

"Awalnya saya mengandalkan elpiji 3 kilogram untuk memasak ketupat dan kuah soto, dan membutuhkan dua tabung elpiji 3 kg dengan total pengeluaran Rp17 ribu, atau dalam sebulan menghabiskan anggaran Rp150 ribu," katanya.

Namun, kata dia setelah menggunakan gas bumi dari PGN hanya membayar biaya pemakaian tak lebih dari Rp 50 ribu setiap bulannya. "Penghematan ini bisa membuat saya memberikan harga jual Soto Banjar cukup murah dengan rata-rata Rp 15 ribu dari awalnya Rp 20 ribu, atau lebih hemat Rp 5 ribu," kata dia.

Sumber : antara