Jumat , 21 April 2017, 15:25 WIB

PLN Gandeng Investor AS Kembangkan Sistem Smart Grid

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nidia Zuraya
Antara/Rosa Panggabean
Wakil Presiden Jusuf Kalla (kiri) dan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Michael R. Pence (kanan) berbincang usai menyaksikan penandatanganan kerjasama antara Director of Corporate Planning PLN Nicke Widyawati (kedua kiri) dan CEO Pacific Infra Capital Grant Finiayson dalam Business Leaders and Commercial Deal Signing, Jakarta, Jumat (21/4).
Wakil Presiden Jusuf Kalla (kiri) dan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Michael R. Pence (kanan) berbincang usai menyaksikan penandatanganan kerjasama antara Director of Corporate Planning PLN Nicke Widyawati (kedua kiri) dan CEO Pacific Infra Capital Grant Finiayson dalam Business Leaders and Commercial Deal Signing, Jakarta, Jumat (21/4).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT PLN (Persero) menandatangani nota kesepahaman kerja sama dengan perusahaan investasi Amerika Serikat (AS), Intra Capital LLC untuk pengadaan turbin pembangkit listrik di Jawa dan Bali senilai 2 miliar dolar AS. Investasi ini merupakan implementasi smart grid untuk meningkatkan keandalan dan menurunkan susut jaringan, serta menambah rasio penetrasi renewable energy.

"Kita mulai dengan advanced metering infrastructure, sehingga nanti konsumen bisa mengendalikan dan memonitor langsung dari gadget kebutuhan ini," ujar Direktur Perencanaan Korporat PLN Nicke Widyawati di Hotel Shangri-La Jakarta, Jumat (21/4).

Implementasi smart grid ini menghubungkan mulai dari KWh meter dan dikontrol sistem dengan gardu induk, sampai ke jaringan serta pembangkit PLN. Sistem ini akan dihubungkan satu sama lain sehingga nantinya konsumen bisa mengontrol dan mengatur penggunaan energi dengan baik.

"Itu smart grid bisa ke arah sana, banyak fitur yang bisa dimanfaatkan," kata Nicke.

Nicke menjelaskan, untuk proyek pertama akan dipilih daerah yang susut jaringannya masih relatif tinggi seperti wilayah industri dan wilayah wisata. Tujuannya agar PLN bisa mengukur efektivitas smart grid dalam menurunkan susut. Sehingga semakin banyak energi yang bisa dikirim ke konsumen.

Selain itu, PLN juga menandatangani kerja sama dengan Haliburton terkait dengan wilayah kerja panas bumi (WKP) yang ditugaskan oleh pemerintah. Nicke mengatakan, WKP yang dikerja samakan dengan Halliburton masih dipetakan dan akan dibicarakan lebih lanjut dengan Kementerian ESDM.

Nicke menambahkan, kerja sama dengan Haliburton akan memilih salah satu dari 14 WKP yang masuk bidikan PLN.  "Ini kan harus diapprove oleh Kementerian ESDM, tidak semua dengan Haliburton, kita pilih aja yang bisa dikerja samakan dengan Halliburton," ujar Nicke.

Untuk diketahui, penggunaan tenaga panas bumi menjadi salah satu prioritas nasional di bidang energi. Sebab, Indonesia memilik potensi panas bumi sebesar 11 gigawatt (sumberdaya) dan 17,5 gigawatt (cadangan). Saat ini kapasitas terpasang sekitar 1.643,5 MW yang merupakan peringkat ketiga terbesar penghasil listrik dari panas bumi dunia setelah AS dan Filipina.