REPUBLIKA.CO.ID, SIDOARJO -- Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan mengatakan Indonesia bisa menjadi produsen kopi terbesar di Asia Tenggara. Mendag mengungkapkan karena masih banyaknya lahan perkebunan kopi di Indonesia yang bisa digunakan.
"Pemerintah akan terus mendorong untuk meningkatkan produksi kopi yang ada di Indonesia supaya bisa menjadi nomor satu di Asia Tenggara," katanya saat melakukan dialog dengan pengusaha kopi di Sidoarjo, Selasa (19/3).
Ia mengemukakan, saat ini produksi kopi yang ada di Indonesia mencapai 600 ribu ton setiap tahun dan harus terus ditingkatkan supaya bisa menjadi nomor satu di kawasan Asia Tenggara.
"Untuk menjadi nomor satu itu harus ada peningkatan dari hulu sampai dengan hilir. Selain itu, semangat untuk mencapai target tersebut harus terus ditingkatkan," ujarnya.
Ia mengatakan, salah satu faktor untuk peningkatan produksi tersebut salah satunya dengan cara pemanfaatan lahan yang ada di Indonesia. "Selain pemanfaatan lahan yang ada, faktor lain yang bisa dilaklukan yaitu dengan mempersiapkan teknologi yang ada saat ini," katanya.
Namun semuanya itu, lanjut dia, perlu adanya disiplin yang ketat dari para pemangku kepentingan karena dengan disiplin tersebut semua tujuan bisa tercapai.
Sementara itu, Ketua Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (Gaeki) Hutama Sugandhi, mengatakan, dari sepuluh varietas kopi terbaik di dunia lima di antaranya berada di Indonesia. "Kopi yang masuk dalam kualitas terbaik tersebut di antaranya Java Coffee dan juga Kopi Toraja yang saat ini sudah mendunia," katanya.
Ia mengatakan, saat ini Indonesia produksi kopinya masih rendah yakni sekitar 700 sampai dengan 800 kilo per hektar dengan lahan tanam yang mencapai 1,1 juta hektar. Menurutnya, Indonesia masih kalah dibandingkan dengan Vietnam yang memiliki lahan tanam sekitar 550 ribu hektare mampu menghasilkan kopi sebanyak 3 ton dalam setiap hektarnya.
Ia mengatakan, minimnya jumlah produksi kopi tersebut salah satunya terkendala modal dan juga kurangnya perhatian dari pemerintah. "Pemerintah saat ini lebih perhatian terhadap produsen kelapa sawit dan karet dibandingkan dengan komoditas kopi," katanya.