REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Asian Development Bank (ADB) dan Agence Francaise de Development (AFD) Prancis bakal mendanai proyek interkoneksi Kalimantan Barat dan Serawak, Malaysia. Rencananya, kedua lembaga multinasional itu akan menggelontorkan dana hingga 99 juta dolar AS.
Bahkan komposisi keduanya mencapai 70 persen. Sedangkan sisanya sebesar 20 juta dolar AS lain dibiayai PLN.
"Dengan kepastian loan ini, kita sudah menender pembangunan transmisinya," katanya Direktur Perencanaan dan Manajemen Resiko PLN Murtaqi Syamsuddin pada wartawan Rabu (13/3). Nantinya seluruh pengembangan proyek akan dilakukan sesuai dengan persetujuan kedua organisasi asing itu.
Sebelumnya interkoneksi Kalbar - Serawak dibangun PLN bersama Serawak Energi Berhad (SEB). Jaringan tersebut akan menggunakan transmisi 275 kilovolt (kV) sepanjang 122 kilometer (km) dari Bengkayang, Kalimantan Barat hingga Mambong, Serawak.
Sekitar sepanjang 86 km akan berada di Kalimantan Barat dan sisanya 36 km di Serawak. Bersamaan dengan pembangunan jaringan, PLN juga akan membangun pembangkit di Pontianak 2 x 27 megawatt (MW).
PLN dan SEB telah membuat kesepakatan kerja sama pembangunan jaringan yang menghubungkan kedua negara. Kerja sama jual beli listrik antara PLN dan SEB akan berlangsung selama 25 tahun dan terbagi dalam dua tahap.
Selama lima tahun tahap pertama, PLN akan mengimpor dari SEB. Tahap kedua, PLN dan SEB akan jual – beli listrik berdasarkan keekonomian kedua sistem tenaga listrik atau economic exchange power transfer dengan menggunakan prinsip day-head agreement.
Pasokan dari Serawak rencananya akan berasal dari PLTA besar di wilayah tersebut. Interkoneksi dengan Serawak ini akan memperkuat sistem kelistrikan Kalimantan.
Hal senada juga akan dilakukan ADB untuk proyek interkoneksi Sumatera-Malaysia. Meski belum memiliki rincian dana yang akan diberikan, proyek ini diperkirakan membutuhkan dana Rp 15 triliun.
"Sekarang kita tunjuk satu transaction advisor,' katanya. Dengan ini PLN dan rekan bisa menyepakati berapa sebenarnya dana yang dibutuhkan.
PLN bersama PT Bukit Asam (Persero) dan Tenaga Nasional Berhad (TNB) akan membentuk perusahaan patungan untuk merampungkan interkoneksi antar negara tersebut, sekaligus PLTU dengan total kapasitas 2 ribu MW. Ketiganya telah menandatangani perjanjian kerja bersama (joint development agremeent/JDA) pada Oktober tahun lalu.
Ketiganya sepakat pembangkit akan dominan diurus PT Bukit Asam, sementara jaringan listrik oleh PLN dan TNB. Jaringan yang dibangun nantinya menggunakan kabel bawah laut 250 kV, jenis high voltage direct current (HVDC).
Jaringan interkoneksi ini dibangun menghubungkan Garuda Sakti, Sumatera dan Teluk Gong, Malaka Malaysia. Untuk sumber listrik, ketiga pihak akan membangun PLTU Mulut Tambang Peranap ini akan berkapasitas 800 – 1.200 MW dan bisa ditambah sesuai kebutuhan kedua negara.
Pasokan dari pembangkit ini akan diutamakan untuk memperkuat sistem kelistrikan Sumatera dan sisanya diekspor ke Malaysia. Target perseroan, jaringan interkoneksi ini akan bisa mulai mengekspor listrik ke Malaysia pada 2017.