Sabtu, 11 Jumadil Awwal 1434 / 23 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Kementan Ajukan Rp 200 Miliar untuk Gagal Panen

Senin, 04 Februari 2013, 15:29 WIB
Komentar : 0
Antara/Dedhez Anggara
Sejumlah petani menanam padi di lahan sawah Desa Pabean Udik, Indramayu, Jawa Barat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Pertanian (Kementan) menyusun rencana anggaran sebesar Rp 200 miliar untuk bencana alam. Anggaran ini digunakan untuk penggantian lahan pertanian yang mengalami gagal panen akibat banjir, kekeringan dan serangan hama penyakit.

Untuk setiap hektare (ha) lahan yang gagal panen, petani mendapatkan penggantian sebesar Rp 3,7 juta. Penggantian tersebut mencakup dana pembelian pupuk Rp 1,1 juta dan pengolahan lahan Rp 2,6 juta. "Dengan dana tersebut diharapkan petani bisa segera menanam kembali," ujar Direktur Pembiyaan Kementan, Mulyadi, Senin (4/2).

Penyusunan anggaran ini nantinya akan diteruskan ke Kementerian Koordinator bidang Perekonomian. Tahun lalu, Kementan menetapkan anggaran bencana Rp 200 miliar. Saat ini Kementan masih mengumpulkan data lahan yang gagal panen sepanjang Januari 2013.

Petani dapat mengajukan penggantian lahan melalui beberapa tahapan administrasi di Kabupaten, Propinsi dan Dirjen Tanaman Pangan Pusat. Petani harus menyertakan rekening dan kelengkapan keanggotan. "Lamanya proses tergantung kelengkapan berkas," ujar Mulyadi.

Pemerintah juga menjalankan uji coba asuransi pertanian untuk musim tanam periode Oktober-Maret 2013. Dengan kewajiban premi sebesar Rp 180 ribu, petani hanya diharuskan membayar Rp 36 ribu. Sisa pembayaran sebesar Rp 144 ribu digenapi oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk membeli pupuk. Uji coba ini dijalankan di tiga propinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Timur dan Sumatra Selatan.

Kendati mendapat sambutan positif, petani mengingatkan agar pemerintah menyederhanakan proses administrasi. Pasalnya, petani daerah harus berpacu dengan waktu penanaman kembali. "
"Mekanisme klaim harus sederhana untuk menutup kemungkinan manipulasi," ujar Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) , Rahmat Pambudi. 

Kerugian yang diproteksi juga harus diperjelas. Petani berharap penggantian meliputi pupuk, benih sampai tenaga kerja. Selain itu diperlukan koordinasi antara pihak perbankan, penyuluh, organisasi serta pemerintah daerah.

Pascabanjir Januari lalu, sedikitnya 40 ribu ha lahan pertanian mengalami gagal panen. Petani berharap bantuan dari pemerintah pusat segera datang agar kerusakan tidak bertambah parah. Ketua Umum Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir menyatakan saat ini para petani sudah melakukan penanaman kembali.

Reporter : Meiliani Fauziah
Redaktur : Nidia Zuraya
1.009 reads
Barangsiapa tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya ((HR Bukhari))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda