Sabtu, 11 Jumadil Awwal 1434 / 23 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Pengusaha Minta Transparansi Subsidi Listrik

Senin, 28 Januari 2013, 17:17 WIB
Komentar : 0
Republika
Raja Sapta Oktohari

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Ketua Umum Himpunan Pengusaha Mudah Indonesia (Hipmi) Raja Sapta Oktohari meminta pemerintah bisa transparan mengenai pemberian subsidi listrik industri. Termasuk mengenai rincian besarnya subsidi yang diberikan kepada masing-masing subsektor industri beserta alasannya.

"Karena akan menimbulkan kecemburuan buat yang tidak dapat kalau tidak transparan," ujar Okto kepada Republika, Senin (28/1).

Dalam APBN 2013, subsidi listrik untuk industri mencapai Rp 19,9 triliun. Angka ini mencapai 25 persen dari total subsidi listrik Rp 78,63 triliun. Subsidi itu, paling banyak diberikan kepada 55 perusahaan.

Pada tahun 2011 lalu, PLN memberikan subsidi senilai masing-masing Rp 700 miliar untuk  Krakatau Steel dan Semen Holcim. Beberapa perusahaan produsen baja, semen dan keramik juga menerima subsidi dalam nilai yang cukup tinggi.

Okto mengaku kaget dengan banyaknya perusahaan besar yang menerima subsidi listrik cukup tinggi. Menurutnya, perusahaan sekelas Krakatau Steel semestinya bisa memberikan penghasilan bagi Indonesia, bukan sebaliknya menghabiskan banyak subsidi listrik.

"Harus transparan agar tidak ada ketimpangan dalam pemberian subsidi," ujarnya.

Ia mengatakan subsidi listrik semestinya bisa lebih diprioritaskan untuk pengusaha pemula. Dengan begitu, ada kesempatan bagi pengusaha pemula ini agar tetap bisa memiliki daya saing yang tinggi. Subsidi listrik menurut dia juga semestinya diberikan kepada pengusaha padat karya yang belakangan terbebani dengan adanya kenaikan upah buruh.

Reporter : Dwi Murdaningsih
Redaktur : Nidia Zuraya
527 reads
Ada seorang lelaki berkata kepada Nabi SAW: "Berilah aku nasihat!" Beliau menjawab: "Jangan marah" Orang itu berulangkali meminta supaya dirinya dinasihati, maka Rasulullah SAW tetap mengatakan: "Jangan marah!" (HR. Bukhari)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda