Sabtu, 1 Muharram 1436 / 25 Oktober 2014
find us on : 
  Login |  Register

Rasio Pengeboran Minyak Indonesia Membaik

Senin, 22 Oktober 2012, 22:05 WIB
Komentar : 0
Republika/Wihdan Hidayat
Gambar instalasi pengeboran minyak lepas pantai dipajang salah satu stan saat pameran Indonesian Petroleum Association (IPA) di Jakarta Convention Center.
Gambar instalasi pengeboran minyak lepas pantai dipajang salah satu stan saat pameran Indonesian Petroleum Association (IPA) di Jakarta Convention Center.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Rasio pengeboran minyak di Indonesia kian membaik 15 tahun terakhir, yaitu 4:1. Artinya, dalam empat kali kegiatan pengeboran, perusahaan minyak (oil company) memperoleh satu sumber minyak.

General Manager Operasi EIR OFS PT Elnusa Tbk (ELSA), Eko Sudi Pramono, membandingkan 15-20 tahun lalu, rasio pengeboran minyak di Indonesia hanya 8:1.

Artinya, dalam delapan kali kegiatan pengeboran, perusahaan minyak berhasil menghasilkan satu sumber minyak baru. "Rasio saat ini sudah cukup tinggi dengan teknologi yang ada," kata Eko kepada ROL di Jakarta, Senin (22/10).

Ongkos operasional minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia cukup tinggi. Di areal pengeboran salah satu klien utama Elnusa, PT Total E&P Indonesia di Balikpapan misalnya, biaya operasional pengeboran minyak mencapai 250 ribu dolar AS per hari.

Areal pengeborannya, kata Eko, terbilang dangkal. Sedangkan untuk areal pengeboran yang lebih dalam seperti di Selat Makassar, ongkos operasionalnya bisa mencapai 800 ribu dolar AS per hari.

Namun, imbas hasil satu sumber minyak yang berhasil ditemukan perusahaan biasanya seimbang dengan biaya operasional yang telah dikeluarkan. "Dalam tiga bulan, rata-rata seluruh biaya sudah ter-cover hanya dari satu sumur yang menghasilkan 2.000 barel minyak per hari (bph)," kata Eko.

Risiko lainnya, jika eksplorasi tak berhasil, maka perusahaan berpotensi kehilangan hingga 10 juta dolar AS.

Sebagian orang berpendapat, salah satu cara meningkatkan produksi minyak adalah mengoptimalisasikan produksi di sumur minyak tua. Menurut data Kementerian ESDM, ada sekitar 13 ribu sumur minyak bumi tua di Indonesia. Optimalisasi sumur minyak tua harapannya dapat meningkatkan produksi minyak nasional mencapai lima ribu hingga 12 ribu bph.

Pengamat perminyakan sekaligus Division Head of Geosicience Services Land and Processing Elnusa, Dipa Mulia, menilai pemerintah dan perusahaan minyak hendaknya lebih mengutamakan eksplorasi sumber-sumber minyak baru di penjuru Indonesia, meskipun dananya besar. "Jika hanya mengandalkan sumur tua, atau wilayah lama, minyaknya sedikit," katanya.




Reporter : Mutia Ramadhani
Redaktur : Chairul Akhmad
Anas Ra, pembantu rumah tangga Nabi Saw berkata, “ Aku membantu rumah tangga Nabi Saw sepuluh tahun lamanya, dan belum pernah Beliau mengeluh “Ah” terhadapku dan belum pernah Beliau menegur “kenapa kamu lakukan ini atau kenapa tidak kau lakukan ini.((HR. Ahmad))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Hampir Sama dengan Sistem Pesawat, Pengemudi Truk Ini Bisa 'Selonjoran'
WASHINGTON DC -- Truk biasanya digunakan untuk mengantar barang jarak jauh. Kelelahan selalu menjadi kendala dari pengemudi truk. Akan hal itu Mercedes-Benz menciptakan...