Senin, 6 Zulqaidah 1435 / 01 September 2014
find us on : 
  Login |  Register

Harga Kedelai Naik, Panik atau Ulah Spekulan?

Selasa, 24 Juli 2012, 19:27 WIB
Komentar : 1
Kedelai
Kedelai

REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA -- Kenaikan harga kedelai beberapa hari terakhir akibat kepanikan masyarakat akibat pemberitaan media. Sebab kenaikan bukan berdasarkan hukum ekonomi, dimana persediaan terbatas maka harga akan naik.

"Kenaikan harga kedelai ini tidak menunjukkan situasi yang sebenarnya," kata Andung Prihadi S, Asisten II Bidang Perekonomian Sekda DIY kepada wartawan seuasai rapat koordinasi kesiapan Tim Pengendali Inflasi (TPI) DIY menghadapi Bulan Ramadhan di Yogyakarta, Selasa (24/7).

Rapat koordinasi diikuti Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY, Mahdi Mahmudy; Kepala Disperindag dan UKM DIY, Riyadi Ida Bagus; Kepala Dinas Pertanian DIY, Nanang Suwandi; Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan DIY, Asikin Chalifah; Kepala Bulog Divre DIY, Darsono Imam Yuwono; Kepala Badan Pusat Statistik DIY, Wien Kusdiatmono.

Dijelaskan Andung, harga kedelai tiga pekan lalu Rp 7.070 per kilogram dan dua hari lalu Rp 7.075 per kilogram. Sedangkan Selasa (24/7), naik menjadi Rp 8.2250 per kilogram. "Tidak ada pola kenaikan seperti ini," kata Andung.

Saat ini, lanjut Andung, stok kedelai di DIY, lebih dari 25 ribu ton. Sedangkan kebutuhan kedelai per hari rata-rata 2.000 ton. Sehingga kebutuhan kedelai di Yogyakarta aman.

Sedangkan di Gunungkidul, kata Andung, telah memasuki masa panen. Ada sekitar 38 ribu hektare yang panen. Sehingga hasil panenan ini bisa menambah stok kedelai.

Sementara perkembangan harga bahan pangan pekan pertama bulan Ramadhan di DIY cukup bervariasi. Harga beras relatif stabil karena ketersediaan mencukupi. Harga lelang gula pasir bulan Juli menunjukkan tren menurun. Bulan Juni harga gula Rp 10.517 per kilogram, dan bulan Juli menjadi Rp 10.410 per kilogram. "Stok gula pasir mencukupi untuk kebutuhan tiga bulan ke depan," katanya.

Tim TPID Provinsi DIY menilai kenaikan harga yang terjadi terhadap beberapa komoditas tersebut bersifat temporer dan rutin setiap musim liburan, tahun ajaran baru, menjelang Ramadhan, dan hari-hari besar keagamaan nasional. "Setelah masa tersebut terlewati, diperkirakan harga akan kembali normal," katanya.

TPID DIY mengharapkan para pedagang untuk tidak memanfaatkan bulan Ramadhan dan Lebaran untuk mengambil keuntungan yang berlebih dan melakukan penimbunan

Reporter : heri purwata
Redaktur : Taufik Rachman
Mimpi baik adalah dari Allah, sedangkan mimpi buruk adalah dari setan. Maka seandainya kalian mimpi buruk, meludahlah ke arah kiri dan berlindunglah kepada Allah, karena dengan demikian (mimpi buruk) itu tidak akan memerangkapnya(HR Bukhari)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Inter Milan Gasak Stjarnan
MILAN -- Inter Milan tumbangkan Stjarnan dengan skor teak 6-0 dalam play-off second leg Liga Eropa di Stadion San Siro,  Jumat (29/8). Inter yang...