Rabu, 4 Safar 1436 / 26 November 2014
find us on : 
  Login |  Register

Perajin Tempe di Surabaya tetap Berproduksi

Selasa, 24 Juli 2012, 15:50 WIB
Komentar : 2
Tempe (Ilustrasi)
Tempe (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,SURABAYA--Melambungnya harga kedelai di pasaran, membuat para pengrajin produsen tempe semakin terjepit. Beberapa Pengrajin tempe di sekitar wilayah Jabodetabek pun mengancam akan melakukan mogok produksi apabila harga kedelai tak kunjung turun.

Namun ancaman itu nampaknya tidak berlaku bagi Produsen tempe di wilayah Jawa Timur Khususnya Kota Surabaya. Walau harga per kilogram kedelai sebagai bahan utama pembuatan tempe terus meroket sepekan terakhir, namun Pengrajin tempe di Surabaya berkomitmen tetap melanjutkan produksinya.

Hal itu disampaikan Jumadi, Pengrajin tempe di Kampung Industri Tempe Tenggilis Kauman IV. Jumadi bersama lima karyawan miliknya tetap beroperasi di tengah terus meroketnya harga kedelai yang telah mencapai Rp 7.850 per kilogram.

"Kita gak ada ancaman mogok produksi selama kami masih bisa membuat tempe," ungkap Jumadi ketika disambangi di rumah produksi tempenya di wilayah Tenggilis, Surabaya Selatan, Selasa (24/7).

Jumadi yang telah 23 tahun mencari nafkah dari produksi tempe ini mengatakan, sejak hari Ahad hingga Senin kemarin saja, harga kedelai terus merangkak naik. Dari harga terakhir Rp 7.500 hingga Rp 7850 per kilogramnya. Sedangkan harga per Rabu (25/7) diperkirakan Jumadi  sudah mencapai Rp 7.900 per kilogram.

"Lha kalau setiap hari naik seratus rupiah, Pemerintah baik pusat maupun provinsi tidak ada tindakan, bisa jadi produsen tempe terus rugi dan akhirnya gulung tikar," ungkapnya. Untuk mengurangi kerugian, saat ini saja, Jumadi telah mengurangi produktivitas hariannya dari yang sebelumnya 2 kuintal per hari menjadi 1 hingga 1,5 kuintal per hari.

Ia tidak bisa memprediksi kalau harga kedelai di pasaran termasuk di Surabaya mencapai lebih dari Rp 8.000 per kilonya. Karena harga kedelai standar Rp 6.000 yang biasa ia gunakan dengan hanya berkisar Rp 6.000 hingga Rp 6.500 per kilo saja, keuntungan yang didapatnya sudah sangat sedikit. "Apalagi kalau harganya mencapai Rp 8.000 per kilo, gak tahu saya gimana jadinya" terang pria asal Pekalongan ini.

Hal senada disampaikan Produsen Tempe lainnya, Haji Aris. Warga yang tinggal di Tenggilis lama ini sudah lebih dari 25 tahun memproduksi. Ia pun berharap pengrajin tempe di wilayah Tenggilis tidak melakukan aksi mogok tidak melakuan. Haji Aris termasuk salah satu produsen terbesar di Kampung Tempe, Tenggilis Kauman. Ia bisa memproduksi 500 per kilo per hari.

"Kalau kita ini ya berharap Pemerintah pusat maupun provinsi Jatim bisa menormalkan kembali harga kedele. Sekaligus mengantisipasi kenaikan harga sewaktu-waktu jelang lebaran," ungkap Haji Aris di kediamannya Tenggilis Lama, Surabaya Selatan.

Reporter : amri amrullah
Redaktur : Taufik Rachman
Apabila seseorang mengafirkan temannya, maka ucapan (yang mengafirkan) itu benar-benar kembali kepada salah seorang di antara keduanya (yang mengatakan atau yang dikatakan). ( HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
BBM Indonesia Naik di Amerika Malah Turun, Mengapa?
WASHINGTON DC -- Sementara harga BBM di Indonesia naik, di Amerika Serikat harga BBM justru turun ke level terendah selama hampir lima tahun...