Selasa, 7 Ramadhan 1439 / 22 Mei 2018

Selasa, 7 Ramadhan 1439 / 22 Mei 2018

Harga Minyak Dunia Mendekati Level Tertinggi Sejak 3 Tahun

Selasa 16 Januari 2018 06:04 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Harga minyak dunia (ilustrasi).

Harga minyak dunia (ilustrasi).

Foto: REUTERS/Max Rossi

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON --  Harga minyak dunia melayang di dekat level tertinggi tiga tahun di 70 dolar AS per barel pada Senin (15/1) . Kenaikan harga minyak ini dipicu pertanda bahwa pemotongan produksi oleh OPEC dan Rusia memperketat pasokan. Namun para analis memperingatkan soal melonjaknya produksi Amerika Serikat.

Patokan internasional, minyak mentah Brent North Sea, diperdagangkan tiga sen lebih rendah di 69,84 dolar AS per barel pada pukul 15.22 GMT ( atau Senin 22.22 WIB), setelah naik di atas 70 dolar AS di awal sesi.

Sementara minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI), naik 22 sen menjadi 64,52 dolar AS per barel. Perdagangan relatif lambat karena libur nasional di Amerika Serikat.

Sebuah kesepakatan pemotongan produksi antara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), Rusia dan produsen-produsen lainnya telah membantu mengangkat harga minyak secara kuat, dengan kedua acuan kontrak berjangka pada pekan lalu yang mencapai tingkat yang belum terlihat sejak Desember 2014.

Meningkatnya tanda-tanda pengetatan pasar setelah tiga tahun mengalami kelebihan pasokan telah memperkuat kepercayaan di kalangan para pedagang dan analis bahwa harga-harga dapat dipertahankan di dekat level saat ini.

Bank of America Merrill Lynch pada Senin menaikkan perkiraan harga Brent 2018 menjadi 64 dolar AS per barel dari 56 dolar AS, memproyeksikan defisit 430 ribu barel per hari (bpd) dalam produksi minyak dibandingkan dengan permintaan tahun ini. Faktor lain, termasuk risiko politik, juga telah mendorong harga minyak mentah.

"Fundamental-fundamental yang lebih ketat adalah pendorong utama reli harga, namun risiko geopolitik dan pergerakan mata uang seiring dengan uang spekulatif secara bersamaan telah memperburuk pergerakan tersebut," ujar analis bank AS JPMorgan mengatakan dalam sebuah catatan.

Namun, sejumlah analis telah memperingatkan bahwa reli 13 persen sejak awal tahun ini dalam jangka pendek dapat mereda, karena pemeliharaan kilang global dan meningkatnya produksi Amerika Utara.

Perusahaan-perusahaan energi AS menambahkan 10 rig minyak dalam pekan yang berakhir 12 Januari, sehingga total menjadi 752 rig, kata perusahaan jasa energi Baker Hughes pada Jumat (12/1). Itu adalah kenaikan terbesar sejak Juni 2017.

Di Kanada, perusahaan-perusahaan energi hampir melipatgandakan jumlah rig pengeboran minyak mereka minggu lalu menjadi 185 rig, tingkat tertinggi dalam 10 bulan terakhir.

Konsultan JBC Energy yang berbasis di Wina memperkirakan produksi Amerika Serikat akan tumbuh 600 ribu barel per hari pada kuartal pertama 2018 dibandingkan setahun sebelumnya.

Sumber : antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA