Jumat , 12 January 2018, 10:55 WIB

Permalukan Prancis, Macron Kecam Produsen Susu Bayi Lactalis

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Nidia Zuraya
AP Photo/Thibault Camus
Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Presiden Prancis Emmanuel Macron.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam produsen dan jaringan toserba yang lalai atas kontaminasi makanan bayi. Kasus tersebut dinilai mempermalukan Prancis.

Dalam sebuah konferensi pers di Roma, Italia, Macron mengecam perusahaan pengolahan susu, Lactalis, setelah jaringan toserba besar Prancis mendapat laporan produk susu bayi asal perusahaan tersebut terkontaminasi bakteri salmonella. Akibatnya, semua produk susu Lactalis ditarik dari pasar pada Desember 2017 lalu, demikian dilansir Associated Press, Kamis (11/1).

''Apa yang terjadi pada produk Lactalis tidak bisa ditoleransi. Keamanan pangan adalah prioritas yang harus mendapat jaminan pasti bagi warga Prancis dan Eropa,'' kata Macron.

Beberapa jaringan ritel juga harus ikut bertanggung jawab atas persoalan ini. Namun, belum jelas bagaimana proses penarikan produk Lactalis ini akan dituntaskan.

Lactalis merupakan salah satu perusahaan pengolahan susu terbesar dunia, sudah menginstruksikan penarikan semua produk yang dihasilkan dari pabri di Craon, Prancis pada Desember lalu setelah ditemukan bakteri salmonella di pabrik tersebut. Badan Perlindungan Konsumen Prancis sudah meminta penundaan penjualan produk dari pabrik tersebut.

Namun, jaringan ritel di Prancis seperti Carrefour, Auchan 52 dan Systeme-U Leclerc menyatakan produk Lactalis tersebut masih tersedia dan bisa dibeli konsumen setelah permintaan penundaan penjualan tersebut.

Untuk mengendalikan potensi kerugian di masyarakat dan persepsi ketidakkompetenan termasuk pada level pemerintah, Macron meminta semua pemangku kepentingan untuk lebih berhati-hati agar kasus ini tidak terulang dan menjanjikan hukuman atas kelalaian yang terjadi.

Juru bicara Lactalis, Michel Nalet, tidak memaparkan dengan jelas masalah yang terjadi. Namun ia menyatakan penarikan produk dan investigasi sedang mereka lakukan.

''Kami harus memenangkan kembali kepercayaan konsumen,'' kata Nalet.

Kasus kontaminasi ini membuat 18 bayi harus dirawat di rumah sakit pada akhir 2017 lalu. Beruntung, saat ini mereka telah pulih.



Berita Terkait