Selasa , 14 November 2017, 12:27 WIB

Pelaku Usaha di Inggris Beri Ultimatum Perdana Menteri May

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Nidia Zuraya
AP/Michel Euler
Perdana Menteri Inggris, Theresa May.
Perdana Menteri Inggris, Theresa May.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Para pesohor dunia bisnis Inggris memberi dua opsi kepada Perdana Menteri Theresa May untuk menyepakati perjanjian pasca Brexit atau kolaps dengan keyakinan ekonomi yang Inggris buat sendiri.

''Setahun ini mereka tidak berbuat apa-apa. Sekarang mereka punya dua pekan untuk menentukan kejelasan,'' kata Presiden BusinessEurope yang mewakili 14 utusan bisnis di Inggris, Emma Marcegaglia seperti dikutip The Guardian, Senin (13/11).

Setelah menyambangi Kantor Perdana Menteri Inggris di Downing Street, Marcegaglia bersama rekan-rekannya menghargai pemerintah, namun sudah saatnya retorika dijadikan realita. Mereka mengkhawatirkan tingginya tarif pasca Brexit akan menghambat industri otomotif, kedirgantaraan, dan farmasi. Apalagi survei Konfederasi Industri Inggris (CBI) menunjukkan 60 persen bisnis di Inggris harus membuat rencana kontingensi sampai Maret mendatang.

''Kalau bisnis tidak mendapat kepastian, mereka akan kabur,'' kata Marcegaglia.

Pada dasarnnya, ia dan rekan-rekannya optimistis. Namun ia tak melihat ada sinyal perubahan atas kondisi ini.

Menurut Direktur Jenderal CBI Carolyn Fairbairn, dunia bisnis tidak punya banyak pilihan dan berasumsi akan menghadapi kondisi terburuk bila Inggris tak mengamankan kesepakatan apapun.

Dengan nilai lebih dari 600 miliar euro per tahun, hubungan dagang Inggris dengan UE tak bisa diabaikan. Pemerintah Inggris dan pengusaha sama-sama mencari langkah terbaik. Fairbairn berharap akan ada sinyal baik terlihat sebelum Natal 2017 ini.

Kantor Perdana Menteri Inggris sendiri memastikan, Brexit tidak berarti Inggris keluar dari Eropa. Inggris masih bertekad punya jalur perdagangan bebas dengan anggota Uni Eropa. Perdana Menteri May juga menyampaikan komitmennya untuk memberi kepastian bagi dunia bisnis sesegera mungkin.

CEO Asosiasi Industi Irlandia (Ibec) Danny McCoy mengatakan, pesan yang disampaikan dunia usaha Inggris amat jelas, mereka khawatir dengan lambannya negosiasi. Pengusaha butuh aksi nyata, bukan sekadar kata-kata. McCoy meminta Pemerintah Inggris lebih fokus terhadap langkah jangka panjang pasca Brexit.

CEO Kamar Industri Inggris Jerman (BDI) Joachim Lang mengatakan, yang penting bagi dunia usaha adalah kepastian dan kuntinyuitas. Namun, transisi politik berbeda dengan transisi bisnis. Waktu dua tahun tak akan cukup. BDI menilai, adalah hal fatal bagi ekonomi Inggris bila Brexit berujung tanpa kesepatakat dagang.

Kamar Dagang dan Industri Jerman (DIHK) menyebut, ekspor otomotif Inggris akan terkena tarif tambahan 2,35 miliar euro tiap tahun bila kondisi normal di bawah regulasi WTO diterapkan. Pun industi farmasi dan kimia yang akan terkena tarif lebih dari 11 miliar euro dan tarif barang akan dibebani tarif tambahan sekitar 200 miliar euro tiap tahunnya.