Jumat , 10 November 2017, 06:47 WIB

Rencana UEA Serang Ekonomi Qatar Terbongkar

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Nidia Zuraya
Doha Qatar
Doha Qatar

REPUBLIKA.CO.ID, QATAR -- Rencana Uni Emirat Arab untuk menyerang sistem keuangan Qatar telah terungkap dalam folder akun email milik Duta Besar UEA untuk AS, Yousef al-Otaiba.

Intercept, sebuah situs investigasi yang berbasis di AS, memperoleh rencana tersebut dan membuka plotnya, yang melibatkan serangan terhadap mata uang Qatar dengan menggunakan manipulasi obligasi dan derivatif. UEA juga bertujuan untuk meningkatkan utang Qatar dengan mengendalikan kurva imbal hasil, menurut laporan tersebut, dikutip oleh Aljazirah, Jumat (10/11).

Menurut Intercept, Banque Havilland --yang dimiliki oleh keluarga pemodal Inggris yang terkenal David Rowland-- adalah yang mengembangkan rencana untuk UAE. Tujuannya adalah untuk mendorong ekonomi Qatar runtuh, mengurangi nilai obligasi dan meningkatkan biaya kreditnya, yang pada akhirnya menciptakan krisis mata uang yang menguras cadangan negara.

Dokumen tersebut selanjutnya mengungkapkan bahwa meski melemahkan ekonomi Qatar, UEA juga akan meluncurkan kampanye PR untuk menarik perhatian pada perkembangan ini sebagai bagian dari kampanyenya agar Qatar akhirnya melepaskan perannya sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022.

Proyek baru ini datang di tengah-tengah krisis regional yang jika diterapkan, akan meningkatkan krisis yang mencapai puncak di bulan Juni, ketika UEA dan Arab Saudi memimpin blok negara-negara Arab dalam memblokade dan memotong hubungan diplomatik dengan Qatar.

Rex Tillerson, Sekretaris negara AS, baru-baru ini menuduh negara- negara yang memblokade ini keras pendirian. Namun Presiden Donald Trump telah mengambil pendekatan yang berlawanan, memberanikan Arab Saudi dan UEA dengan mengorbankan Qatar, yang merupakan rumah bagi salah satu basis militer AS luar negeri yang terbesar.

Laporan Intercept mengatakan tekanan mata uang Qatar saat ini di bawah akibat dari blokade yang sedang berlangsung yang diberlakukan oleh UEA. Hal ini berarti langkah-langkah terbuka mungkin lebih efektif untuk menyabotase ekonomi.

Berita Terkait