Rabu , 01 November 2017, 13:21 WIB

Produksi Minyak OPEC Anjlok

Red: Nidia Zuraya
Logo OPEC
Logo OPEC

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Produksi minyak OPEC turun sebesar 80 ribu barel per hari (bph) pada Oktober, sebuah survei Reuters menemukan pada Selasa (31/10), karena ekspor dari Irak utara jatuh dan produsen-produsen lainnya mempertahankan kepatuhan terhadap kesepakatan pengurangan pasokan.

Ketaatan OPEC terhadap jatah pasokan yang dijanjikan naik menjadi 92 persen pada Oktober dari 86 persen pada September, survei tersebut menemukan, karena eksportir utama Arab Saudi terus memproduksi di bawah target OPEC dan produksi di Venezuela, yang sedang berada dalam depresi ekonomi, menurun lebih jauh.

Penurunan produksi Irak telah membantu mendukung harga. Patokan global, minyak mentah Brent pada Jumat (27/10) mencapai 60 dolar AS per barel, harga yang Arab Saudi lihat sebagai tingkat yang baik, untuk pertama kalinya sejak 2015.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) mengurangi produksi mereka sekitar 1,2 juta barel per hari sampai Maret tahun depan, sebagai bagian dari kesepakatan dengan Rusia dan produsen-produsen lainnya, yang juga melakukan pemotongan produksi.

Produsen-produsen diperkirakan akan memperpanjang kesepakatan pengurangan pasokan lebih lanjut hingga 2018, saat mereka bertemu pada 30 November.

"Dengan kepemimpinan Saudi dan Rusia yang mendukung pembatasan pasokan, pertemuan OPEC bulan depan akan menjadi sebuah acara tidak penting," kata Stephen Brennock dari broker minyak PVM.

"Itu kecuali kartel minyak mengumumkan pemangkasan produksi yang lebih dalam atau ketentuan untuk anggota yang dikecualikan Libya dan Nigeria."

Penurunan terbesar dalam produksi pada Oktober, 120 ribu bph, berasal dari Irak. Produksi dan ekspor di Irak utara turun pertengahan bulan, ketika pasukan Irak merebut kembali kendali atas ladang minyak dari para pejuang Kurdi yang telah berada di sana sejak 2014.

Ekspor dari Irak selatan, gerai untuk sebagian besar minyak mentah negara itu, juga turun dalam tiga minggu pertama Oktober, namun meningkat pada minggu terakhir yang mencerminkan sebuah rencana Irak untuk mengimbangi berkurangnya aaliran dari utara.

Penurunan tersebut berarti Irak, yang sejauh ini telah membuat bagian yang lebih kecil dari pemotongan yang dijanjikannya daripada rekan-rekannya di OPEC seperti Arab Saudi, telah memberikan kepatuhan tertinggi, menurut survei Reuters.

Produksi di Venezuela, di mana industri minyak kekurangan dana karena kesulitan ekonomi negara tersebut, tergelincir lebih jauh di bawah target OPEC, survei tersebut menemukan. Baik ekspor maupun operasi-operasi kilang lebih rendah pada Oktober.

Produksi Aljazair juga menurun karena rencana pemeliharaan ladang minyak, kata sumber industri.

Gabungan pasokan dari Nigeria dan Libya, dua produsen yang dibebaskan dari pemotongan barel tambahan membantu produksi OPEC mencapai level tertinggi 2017 pada Juli, datar pada Oktober, survei tersebut menemukan.

Produksi Nigeria merosot 70 ribu bph. Ekspor minyak mentah Bonny Light berada di bawah force majeure untuk sebagian bulan ini dan para pedagang mengatakan pemuatan beberapa grade lainnya, termasuk Qua Iboe ad Forcados, menghadapi penundaan.

Sebaliknya, Libya memompa 70 ribu bph tambahan pada Oktober karena produksi yang lebih stabil dari ladang minyak Sharara, terbesar di Libya. Produksi Libya tetap berfluktuasi dan, rata-rata, di bawah level yang terlihat awal tahun ini.

Di negara-negara lain dengan kenaikan produksi, kenaikan terbesar terjadi di Angola dimana ekspornya pada Oktober dijadwalkan mencapai level tertinggi 13 bulan.

Pengekspor terkemuka Arab Saudi menambahkan 30.000 bph untuk pasokan, dengan ekspor naik dan minyak mentah yang digunakan di pembangkit listrik dalam negeri menurun secara musiman, menurut sumber dalam survei tersebut.

OPEC tahun lalu mengumumkan target produksi 32,50 juta bph, berdasarkan angka rendah untuk Libya dan Nigeria. Target itu termasuk Indonesia, yang sejak saat itu meninggalkan OPEC, dan tidak termasuk Equatorial Guinea, negara terakhir yang bergabung.

Menurut survei tersebut, produksi pada Oktober memiliki rata-rata 32,65 juta bph, sekitar 900 ribu bph di atas target yang disesuaikan untuk menghapus Indonesia dan tidak termasuk Equatorial Guinea.

Dengan Equatorial Guinea ditambahkan, produksi pada Oktober mencapai 32,78 juta bph, turun 80 ribu bph dari posisi September.

Survei Reuters didasarkan pada data pengiriman yang disediakan oleh sumber eksternal, aliran data Thomson Reuters, dan informasi yang diberikan oleh sumber di perusahaan-perusahaan minyak, OPEC dan perusahaan-perusahaan konsultan.





Sumber : Antara