Senin , 30 October 2017, 08:56 WIB

Singapura Berhenti Tambah Mobil Mulai Tahun Depan

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini
Dumalana
Kota Singapura
Kota Singapura

REPUBLIKA.CO.ID,SINGAPURA -- Singapura merupakan salah satu negara termahal di dunia untuk bisa memiliki kendaraan. Tahun depan, negara tersebut akan berhenti menambah jumlah mobil di jalanan kota-kotanya.

Regulator transportasi pada Senin (23/10) mengumumkan Pemerintah akan mengurangi tingkat pertumbuhan tahunan untuk mobil dan motor menjadi 0 persen dari sebelumnya 0, 25 persen mulai Februari mendatang. Jalan telah mencapai 12 persen dari total wilayah daratan negara tersebut.

"Dalam pandangan terbatasnya lahan dan kebutuhan tinggi, ada keterbatasan untuk meningkatkan jaringan jalan," ujar Otoritas Transportasi Darat Singapura.

Dengan luas lahan lebih kecil dari New York City, tanah Singapura merupakan komoditas berharga. Pejabat di sana ingin memastikan penggunaan yang lebih produktif untuk ruang yang tersisa. Infrasturktur di Singapura termasuk paling efisien di dunia dan pemerintah menginvestasikan 28 miliar dolar Singapura untuk transportasi kereta api dan bus selama lima tahun ke depan.

Langkah pembatasan Pemerintah Singapura adalah mewajibkan pemilik mobil untuk membayar izin kendaraan selama 10 tahun, izin tersebut diberi nama Certificate of Entitlement. Izin ini terbatas dan dilelang oleh pemerintah satu bulan sekali. Pada penawaran terakhir minggu lalu biaya izin senilai 41.617 dolar Singapura untuk kendaraan terkecil.

LTA mengatakan target pertumbuhan nol akan memengaruhi kendaraan di kategori A, B dan D di bawah sistem perizinan (termasuk motor dan mobil). Tingkat pertumbuhan kendaraan untuk kendaraan barang dan bus akan tetap sebesar 0,25 persen per tahun sampai Maret 2021. Hal tersebut bertujuan memberi waktu bagi bisnis untuk meningkatkan efisiensi operasi mereka serta mengurangi jumlah kendaraan komersial yang dibutuhkan.

Regulator menyampaikan, perubahan ini tidak diharapkan secara signifikan dapat memengaruhi jumlah izin kendaraan karena kuota ditentukan sebagian besar oleh jumlah kendaraan yang tidak didaftarkan lagi. Oleh karena itu, batas laju pertumbuhan kendaraan akan ditinjau kembali pada 2020.