Senin , 23 Oktober 2017, 16:55 WIB

Brexit Ancam Industri Kreatif Inggris

Rep: Taufiq Alamsyah Nanda/ Red: Budi Raharjo
Ap Photo
Brexit
Brexit

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Keluarnya Inggris dari Uni Eropa (British exit/brexit) telah membawa dampak buruk bagi industri kreatif negara tersebut. Disusun oleh Federasi Industri Kreatif (Creative Industries Federation/CIF) Inggris, laporan ini mengkaji kontribusi dan dampak artis internasional pada dunia hiburan di Inggris.

CIF memperingatkan bahwa penghapusan kebebasan bergerak - faktor kunci dalam brexit - akan mempersempit sumber bakat kreatif di Inggris. Hal itu dikarenakan nantinya artis asing yang berkarya di Inggris akan hengkang akibat Inggris menutup diri dari kebijakan Uni Eropa tersebut.

Terungkap bahwa sektor kreatif Inggris menghasilkan 9,5 juta poundsterling per jam untuk perekonomian Inggris. Dengan hengkangnya Inggris dari Uni Eropa, maka potensi pemasukan tersebut akan hilang juga.

Tercatat bahwa 75 persen perusahaan kreatif Inggris mempekerjakan pekerja dari berbagai negara di Uni Eropa dan penjuru dunia lainnya. Jellyfish Pictures, misalnya, yang mengerjakan beberapa efek khusus untuk Star Wars:  Rogue One, mempekerjakan 200 orang, sepertiga di antaranya adalah warga negara EU.

"Perlu ada sistem yang jelas untuk membuat orang tetap dapat bertahan dalam industri ini. Jika kita ingin membuat karya yang baik dalam waktu singkat, kita membutuhkan bakat mereka. Kepergian mereka akan menimbulkan ancaman," Ujar CEO Jellyfish Picture Phil Dobree saat berbicara kepada Sky News.

Dia melanjutkan dengan menyatakan bahwa agar seni kreatif Inggris dapat berkembang, pemerintah perlu menerapkan 'skema Visa Freelancer Kreatif' untuk memungkinkan pergerakan orang-orang untuk tujuan kerja.

Sekretaris Budaya Tory, Karen Bradley baru-baru ini menyatakan bahwa industri kreatif tidak takut dengan Brexit. "Saya telah bertemu dengan sejumlah orang di industri kreatif. Mereka tidak khawatir dengan hilangnya kebebasan bergerak karena mereka yakin sektor ini akan berkembang," ujarnya.

Namun, CEO CIF John Kampfner menolak klaim tersebut. "Kami memiliki lebih dari 1.000 perusahaan, organisasi, seluruh industri kreatif. Kami telah berbicara dengan begitu banyak dari mereka dan sangat banyak orang sangat gugup mengenai pembatasan atau batasan kuat apapun untuk kebebasan bergerak." katanya.