Jumat , 13 October 2017, 10:40 WIB

IMF: Mustahil Inggris Tinggalkan UE tanpa Kesepakatan

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Nidia Zuraya
AP
Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde.
Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Direktur Eksekutif Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde mengatakan, mustahil Bagi Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa (UE) tanpa membuat kesepakatan pada 2019. Ia juga meminta pembicaraan soal keluarnya Inggris dari UE (Brexit) dipercepat.

Mengawali sidang tahunan IMF, Lagarde mengatakan, negosiasi harus mengutamakan kepentingan masyarakat sebelum apa pun. Lagarde tampak memberi sinyal terbukanya jalan setelah sebelunya pembicaraan Sekretaris Brexit David Davis dengan negosiator UE Michel Barnier tentang dana perpiasahan dan kesepakatan dagang ke depan sempat buntu.

Soal potensi kembalinya Inggris pada aturan Organisasi Perdagangan Internasional (WTO), Lagarde mengaku, tak tahu apa yang akan terjadi. Itu tak berarti bagi masyarakat sebab aturan WTO tidak mengatur kondisi di mana warga Inggris tinggal di UE dan sebaliknya. Menurutnya, Inggris harus mengambil pendekatan yang tepat agar tidak memicu ketidakpastian dunia usaha.

IMF sendiri melihat Brexit sebagai kerapuhan di tengah pemulihan global. IMF mengakui, prediksi resesi Inggris pasca-Brexit terbilang terlalu pesimistis, meskipun IMF mengoreksi proyeksi pertumbuhan Inggris pada 2017 dan 2018 jadi lebih rendah ketimbang UE.

''Brexit sedang berlangsung dan kami harap ini bisa dilakukan secara halus untuk mengurangi ketidakpastian yang memengaruhi dunia usaha dan warga,'' kata Lagarde seperti dikutip The Guardian, Kamis (12/10).

Lagarde sendiri sepakat dengan ide Theresa May soal masa transisi dua tahun untuk menangani isu keuangan, hak warga, dan perbatasan. Sebab hal ini jadi tiga pilar penting masa transisi.

Saat ini pemulihan global sedang berlangsung dan belum selesai. Daya beli masyarakata harus didorong dan lapangan kerja harus ditambah. Kenaikan pajak bagi masyarakat kaya ia nilai tidak masalah dan akan membantu pemerataan tanpa mengganggu pertumbuhan.

Presiden Bank Dunia Jin-kim juga berpikir hal serupa dengan Lagarde. Menurutnya, perdagangan yang mulai naik tidak bisa berjalan bila investasi lemah. Hal itu tidak boleh diperburuk dengan ketidakpastian.

''Harus ada reformasi untuk melawan potensi pelemahan ekonomi ke depan,'' kata Kim.