Jumat , 06 Oktober 2017, 17:52 WIB

Perusahaan Inggris Sulit Mendapatkan Pekerja Setelah Brexit

Rep: Binti Sholikah/ Red: Satya Festyiani
Ap Photo
Brexit
Brexit

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Sebuah survei yang dilakukan IHS Markit/ Recruitment and Employment Confederation menunjukkan, pertumbuhan jumlah rekrutmen di Inggris melalui agen perekrutan melambat bulan lalu di London untuk pertama kalinya dalam hampir setahun karena Brexit mempersulit perusahaan untuk mencari staf.

Lembaga tersebut mengatakan, jabatan permanen yang diisi oleh perusahaan perekrutan melambat dalam tingkat terlemah selama lima bulan terakhir.

Laporan bulanan REC mengenai pekerjaan menunjukkan penurunan penempatan di London mencerminkan masalah perekrutan yang dihadapi sektor keuangan pada khususnya. Perlambatan jumlah warga negara Uni Eropa yang mulai bekerja di Inggris telah memperburuk kekurangan staf.

"Peran rendah keterampilan juga sulit untuk mengisi area seperti pemrosesan makanan, gudang, dan sektor katering yang menggunakan proporsi orang yang lebih tinggi dari Uni Eropa daripada yang lainnya di seluruh ekonomi," kata CEO REC Kevin Green, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (6/10). 

Bulan lalu Bank of England mengatakan sebagian besar pembuat kebijakannya percaya suku bunga mungkin perlu naik dari rekor rendah dalam beberapa bulan mendatang, jika tekanan ekonomi dan harga terus tumbuh.

Bank sentral percaya Brexit akan mengurangi jumlah migran yang datang ke Inggris, mendorong kenaikan upah, dan menambah tekanan inflasi.

Survei REC menunjukkan, dalam empat bulan terakhir, penurunan tajam terjadi pada kandidat untuk pekerjaan tetap, sedangkan pertumbuhan gaji awal tetap tumbuh walaupun sangat kecil.

Sebelumnya pada Jumat, perusahaan akuntan publik BDO mengatakan keseluruhan penjualan seperti toko naik 2,9 persen (yoy), kenaikan terbesar dalam lebih dari tiga tahun.

Namun, kenaikan tersebut terdistorsi oleh penjualan yang lemah pada September 2016.

 

 

Berita Terkait