Rabu , 04 October 2017, 10:01 WIB

Ini Sebab Kunjungan Raja Salman ke Rusia

Rep: Mgrol97/ Red: Agus Yulianto
Reuters/Gary Cameron
Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz
Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz

REPUBLIKA.CO.ID,  JEDDAH -- Raja Salman akan berkunjung ke Rusia pada Kamis mendatang. Kunjungan tersebut untuk meningkatkan kepentingan bersama dalam keamanan, energi, dan perdagangan antara kedua negara itu.

Dilansir Arab News (3/10), ini adalah kali pertama bagi Raja Salman melakukan kunjungan ke Rusia untuk bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Selain membahas hubungan ekonomi, keduanya akan membahas penyelesaian konflik di Rusiah.  "Kami sedang menunggu kunjungan raja pada Kamis," kata Yury Ushakov, staf pembantu Kremlin Senin (2/10).

Raja Salman akan memimpin delegasi dari pemerintah dan tokoh sektor swasta Arab Saudi. Mereka akan mempromosikam Riyadh sebagai investasi potensial yang membantu persoalan ekonomi Rusia. Pertemuan ini direncanakan akan di gelar di Moskow.

Dalam kunjungan sebelumnya seorang  pejabat Saudi berjanji, Riyadh akan menginvestasikan dana sejumlah 10 miliar dolar AS secara langsung pada Rusia. Selain itu kerajaan akan meningkatkan stok pangan dan air dengan berinvestasi di tanah Rusia .

“Arab Saudi memainkan peran utama dalam urusan dan hubungan di negara-negara Arab sekaligus menjadi pemimpin di dunia Arab. Rusia dan Arab Saudi akan berdiskusi mengenai situasi di Timur Tengah dan di Suriah,” kata Dimitry Peskov juru bicara Kremlin.

Putra Mahkota Mohammed bin Salman bertemu dengan Presiden Putin di Kremlin pada Mei lalu. Dalam pertemuan itu mereka sepakat untuk meningkatkan kerja sama minyak dan energi, sekaligus mempersempit kesenjangan antara konflik Suriah. Kunjungan Raja Salman dirasa tepat, karena wilayah Mena di Afrika Utara mengalami perselisihian yang serisu.

Arab Saudi dan Rusia juga merupakan produsen minyak utama di dunia. Mereka telah bergabung dengan negara lain untuk mengurangi produksi dan kelebihan pasokan minyak serta mendorong harga menjadi sekitar 55 dollar AS per barel.

Berita Terkait