Selasa , 24 January 2017, 01:43 WIB

Investor Cina Mulai Cemaskan Isu Agama di Indonesia

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Budi Raharjo
ANTARA/Widodo S. Jusuf
Investasi (ilustrasi)
Investasi (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kondisi politik Indonesia yang belum stabil terutama ditambah dengan polemik soal isu sensitif yang berkaitan dengan agama membuat investasi dari Cina tertunda. Paling tidak, hingga satu tahun ke depan ada 50 miliar dolar AS nilai investasi Cina yang siap untuk disebar di berbagai negara di dunia.

Namun, bila pemerintah tidak bisa meredam situasi di dalam negeri, diyakini Indonesia akan melewatkan kesempatan investasi bernilai miliaran dolar AS dari raksasa ekonomi Asia ini.  Ketua Kamar Dagang Indonesia-Cina (Inacham) Liky Sutikno mengungkapkan, banyak investor asal Cina yang memilih menahan investasinya sejak 2016 lalu. Namun, urungnya investasi asal Cina ini lebih banyak dilakukan oleh sektor swasta.

Padahal, sebetulnya sektor swasta Cina memandang Indonesia sebagai pasar potensial lantaran jumlah penduduk dan nilai ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Liky mengaku, investor Cina menyebut Indonesia sebagai pasar yang optimistic but cautious atau optimistis namun waspada.

Bila pihak swasta memilih menunggu, beda halnya dengan investasi yang berasal dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pemerintah Cina. Sejumlah proyek domestik masih dianggap menarik oleh mereka. Bahkan, nilai realisasi investasi asal Cina pada tahun 2016 lalu melonjak hingga 3 kali lipat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Catatan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), nilai investasi Cina pada semester pertama 2016 saja sebesar 1 miliar dolar AS. Realisasi investasi Cina memang masih menduduki posisi keempat, jauh di bawah Singapura sebesar 4,9 miliar dolar AS. Namun, Liky mengungkapkan bahwa investasi oleh Singapura pun sebetulnya tak sedikit merupakan perpanjangan tangan dari perusahaan-perusahaan besar asal Cina.

Meski ada kenaikan di tahun lalu, Liky mengaku khawatir kondisi ini berbalik pada 2017 ini bila pemerintah tidak bisa menunjukkan kondisi domestik yang adem ayem. "Jadi mereka masih merasa Indonesia secara jangka panjang bagus. Namun jangka pendek semua bilang, Wow what's going on?" ujar Liky di Jakarta, Senin (23/1).

Liky juga mengingatkan pemerintah bahwa Indonesia bukanlah satu-satunya pasar potensial yang dilirik oleh investor asal Cina. Di Asia Tenggara, ia menilai ada Vietnam, Malaysia, dan Myanmar yang secara getol menggaet aliran dana investasi dari Cina. Artinya, bila iklim politik yang diyakini memberikan pengaruh kepada investasi tidak diperbaiki, maka Indonesia tak akan dipilih sebagai negara tujuan investasi.