Kamis , 17 Oktober 2013, 16:40 WIB

Empat Perusahaan Reasuransi Beraset Rp 70 Triliun Siap Merger

Red: Nidia Zuraya
antara
Menteri BUMN Dahlan Iskan
Menteri BUMN Dahlan Iskan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian BUMN akan membentuk perusahaan reasuransi milik negara beraset minimum Rp 70 triliun, dengan menggabungkan empat anak usaha perusahaan reasuransi BUMN ReIndo, Nasional-Re, Tugu-Re, ke dalam PT Asuransi Ekspor Indonesia (ASEI) Persero. "Keempat perusahaan tersebut akan digabungkan, dan ASEI menjadi induknya," kata Menteri BUMN Dahlan Iskan, usai menggelar Rapat Pimpinan Kementerian itu di Kantor Pusat Bank Mandiri, Jakarta, Kamis (17/10).

Tiga perusahaan arusansi tersebut, yaitu ReIndo anak usaha PT Reasuransi Internasional Indonesia (Persero), Tugu-Re anak usaha PT Pertamina (Persero) dan PT Tugu Reasuransi Indonesia, serta Nasional-RE anak usaha PT Reasuransi Umum Indonesia (Persero).

Menurut Dahlan, penggabungan perusahaan reasuransi BUMN tersebut dimaksudkan agar Pemerintah memilki perusahaan penjaminan asuransi dengan modal dan aset besar."Selama ini perusahaan reasuransi BUMN skalanya kecil-kecil. Di lain pihak kita membutuhkan reasuransi yang dapat meng-cover kegiatan penjaminan dalam volume besar," ujarnya.

Selain itu, tambah mantan Dirut PT PLN ini, ASEI selama ini kapasitasnya juga semakin menurun, padahal pembentukan awalnya dimaksudkan untuk memperkuat ekspor nasional. "Dengan lahirnya lembaga pembiayaan ekspor, maka Kredit Ekspor tidak lagi harus melalui ASEI. Ini penyebab peran ASEI semakin menurun," tuturnya.

Dahlan lebih lanjut menjelaskan, pembentukan perusahaan baru reasuransi BUMN itu diharapkan dapat terealisasi sebelum akhir tahun 2013. "Masing-masing perusahaan yang memiliki anak usaha reasuransi itu harus secepatnya melepaskannya, dan menggabungkannya (inbreng) dengan ASEI," tegas Dahlan.

Ia menjelaskan, dalam waktu sekitar dua bulan ke depan, seharusnya penggabungan itu sudah bisa direalisasikan sehingga pada awal 2014 sudah bisa beroperasi penuh. "Ini demi kepentingan nasional, karena saat ini devisa bidang asuransi banyak mengalir ke luar negeri," ujarnya.

Sumber : Antara