Sabtu , 09 August 2014, 09:30 WIB

Minyak Brent Turun Setelah AS Luncurkan Serangan Udara di Irak

Red: Julkifli Marbun
Antara
Harga Minyak Mentah
Harga Minyak Mentah

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Harga minyak Brent turun di London pada Jumat (Sabtu pagi WIB), setelah Amerika Serikat mengatakan telah meluncurkan serangan udara terhadap gerilyawan jihad di Irak yang mengancam wilayah Kurdi yang kaya minyak mentah.

Minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman September kehilangan 42 sen menjadi berakhir pada 105,02 dolar AS di perdagangan London.

Sebelumnya, sebelum serangan Amerika Serikat diumumkan, Brent telah melonjak sampai setinggi 107,45 dolar AS.

Namun, harga minyak mentah light sweet naik tipis di New York Mercantile Exchange, bertambah 31 sen menjadi berakhir pada 97,65 dolar AS per barel, meskipun jauh dari posisi tertinggi hari itu.

Presiden AS Barack Obama memerintahkan pesawat tempur negaranya kembali ke langit Irak untuk menghentikan kelompok pemberontak Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) bergerak memasuki wilayah otonom Kurdistan.

Analis CMC Markets Desmond Chua mengatakan perkembangan itu bisa menambahkan "premi risiko yang signifikan terhadap harga minyak" karena para dealer khawatir tentang potensi gangguan pasokan.

"Pengumuman ini tentu sedikit menaikkan kekhawatiran geopolitik tentang Irak dan kawasan Timur Tengah, dan datang sebagai sedikit kejutan bagi investor," Chua mengatakan kepada AFP.

Sementara itu OPEC pada Jumat memangkas perkiraannya untuk pertumbuhan permintaan minyak dunia 2014 karena pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah dari perkiraan di negara-negara kaya pada kuartal kedua dan pemulihan di seluruh dunia yang "rapuh".

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak itu mengatakan sekarang pihaknya memperkirakan permintaan menjadi 91,11 juta barel per hari, turun dari proyeksi sebelumnya 91,13 juta barel per hari.

Namun, dalam laporan bulanan terbarunya, OPEC yang memproduksi sepertiga dari minyak mentah dunia, mempertahankan perkiraan bahwa permintaan akan tumbuh menjadi 92,32 juta barel per hari pada 2015.

Sumber : Antara