Senin , 02 October 2017, 11:44 WIB

Cina Gempur Pasar Kilang Pengolahan Minyak Dunia

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Nidia Zuraya
Kilang minyak, ilustrasi
Kilang minyak, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Cina mulai menggempur pasar minyak dunia dengan membangun kilang-kilang pengolahan minyak (refinery) di beberapa negara dan mengembangkan kilang yang mereka punya di negaranya sendiri. Gempuran Cina ini salah satunya adalah membangun kilang dengan kapasitas 400 ribu barel per hari yang akan selesai pada 2018.

Kilang tersebut disebut merupakan kilang terbesar yang mengalahkan kilang Royal Dutch Shell di Singapura dan Baytown di Texas. Kilang yang dioperasikan oleh Rongsheng Petrochemical tersebut disebut juga akan mengalahkan kilang milik India dan Korsel.

Hengli Group, raksasa petrokimia Cina lainnya, merencanakan sebuah fasilitas yang bertujuan untuk memproses 20 juta ton di kota Dalian, Cina utara, di Provinsi Liaoning. Rencana tersebut didukung oleh perencana ekonomi negara tersebut.

Proyek-proyek kilang ini setidaknya mampu mendongkrak produksi minyak Cina sebesar 10,4 juta ton per bulan. Kilang tersebut juga akan memproduksi turunan dari minyak mentah termasuk paraxylene dan 2,8 juta ton ethylene.

Wakil presiden Dongming Petrochemical Group salah satu perusahaan kilang terbesar di Cina, Zhang Liucheng mengatakan Pemerintah Cina hendak menggepur pasar minyak dunia dengan menggerakan semua perusahaan kilang minyaknya untuk menggempur pasar dunia. Strategi yang dipakai oleh negara tirai bambu ini adalah menggerakkan perusahaan kecil untuk memproduksi minyak mentah dan menggeraka perusahaan besar untuk fokus memproduksi petrokimia.

"Tapi dengan kemunculan para independen lain yang lebih besar yang akan segera membawa kapasitas baru secara online, mereka akan menjadi serigala, sementara harimau tetap ada, dan kita akan menjadi domba di hadapan mereka." ujar Zhang seperti dilansir dari Bloomberg, Senin (2/10).

Pada Konferensi Asia Pacific Petroleum minggu lalu di Singapura, salah satu pertemuan, pedagang dan eksekutif perusahaan terbesar di industri berspekulasi tentang bagaimana kilang mega China yang akan datang akan menggoyang pasar minyak di seluruh dunia .