Rabu , 13 September 2017, 19:36 WIB

Bank Dunia Prediksi Harga Minyak tak akan Tembus 60 Dolar AS

Red: Nur Aini
REUTERS/Max Rossi
Harga minyak dunia (ilustrasi).
Harga minyak dunia (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, KUALALUMPUR -- Ekonom senior Bank Dunia telah mengesampingkan kemungkinan harga minyak menembus 60 dolar AS per barel dalam tiga tahun ke depan, mengingat produksi minyak serpih yang kuat di Amerika Serikat dan hambatan dari kemajuan teknologi.

John Baffes, saat menghadiri konferensi karet global di Kuala Lumpur pada Rabu (13/9), mengatakan kepada media di sela-sela konferensi bahwa dia melihat kekuatan positif untuk produksi minyak tetapi kekuatan negatif untuk harga minyak. Prakiraan Bank Dunia untuk harga minyak mentah pada 2017 sampai 2019, masing-masing adalah 52 dolar AS, 54 dolar AS dan 57 dolar AS per barel. Harga minyak ditutup menguat pada Selasa (12/9) setelah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) mengindikasikan permintaan yang lebih tinggi di tengah penurunan produksi di antara para anggota. Namun, harga minyak turun lagi pada Rabu karena kenaikan stok AS.

Data Bloomberg menunjukkan pada Rabu bahwa minyak mentah Brent berada di 54,41 dolar AS per barel. Baffes mengatakan bahwa langkah OPEC saat ini tidak banyak berpengaruh pada pasar minyak, dan produksi minyak serpih AS yang telah bertahan memang merupakan faktor terpenting untuk pergerakan minyak.

Menurut Badan Informasi Energi AS (EIA), total produksi minyak mentah AS diperkirakan rata-rata 9,3 juta barel per hari pada 2017, naik 0,5 juta barel per hari dari 2016. Pada 2018, EIA memperkirakan produksi minyak mentahnya mencapai rata-rata 9,9 juta barel per hari, yang akan melampaui rekor sebelumnya sebesar 9,6 juta barel per hari yang tercapai pada 1970.

Dari sisi permintaan, ia menjelaskan bahwa teknologi yang menyebabkan lebih banyak mobil listrik dan ide hemat energi bisa berdampak signifikan terhadap permintaan minyak. Meskipun mengalami badai di AS, dia mempertahankan perkiraan minyak mentahnya tahun ini. "Badai tersebut dapat menyebabkan beberapa fluktuasi harga minyak, namun masih bergantung pada berapa banyak kerusakan yang diakibatkannya," kata dia.

Sumber : Antara