Rabu , 13 September 2017, 15:40 WIB

Malaysian Airlines Beli 16 Pesawat dari Boeing

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nidia Zuraya
EPA/Mauritz Antin
Malaysia Airlines
Malaysia Airlines

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Boeing telah menandatangani nota kesepahaman untuk menjual 16 pesawat terbang ke Malaysia Airlines, yang terdiri dari delapan pesawat jenis 787 Dreamliner dan delapan pesawat lainnya merupakan tipe 737 MAX. Kesepakatan ini dicapai ketika Perdana Menteri Malaysia Najib Razak melakukan pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat (As) Donald Trump di Gedung Putih.

Dilansir Business Insider, Rabu (13/9), Malaysia kemungkinan akan memesan 25 pesawat terbang tambahan untuk jenis 737 dalam waktu dekat. Kesepakatan ini akan bernilai lebih dari 10 miliar dolar AS dengan kontrak selama lima tahun.

Diketahui pada 2016, Malaysia Airlines telah menandatangani kesepakatan untuk membeli 50 pesawat Boeing 737. Chief Executive Malaysian Airlines Peter Bellew mengatakan, Boeing 787 Dreamliner nantinya akan melayani penerbangan ke wilayah Eropa dan AS. Di sisi lain, seperti dilansir Reuters, Malaysia Airline juga sedang mempertimbangkan untuk membeli pesawat Airbus A330neos.

Najib melakukan lawatan ke AS untuk merayakan enam dekade hubungan bilateral antara Malaysia dan AS. Dalam kunjungan tersebut, kedua pimpinan negara akan membahas mengenai masalah-masalah keamanan, investasi, dan perdagangan.

"Investasi dalam hubungan jangka panjang antara kedua negara adalah fondasi kami dalam mengatasi masalah-masalah yang menjadi kepedulian, dan di dalamnya termasuk korupsi dan transparansi," kata pejabat Gedung Putih yang meminta namanya dirahasiakan.

Kunjungan ini penting untuk Najib yang sedang menghadapi Pemilu tahun depan dan ingin mengisyaratkan keterbukaannya kepada Gedung Putih kendati Departemen Kehakiman AS memutuskan menyelidiki badan dana negara 1Malaysia Development Berhad (1MDB).

Najib adalah pendiri lembaga dana yang sedang dihadapkan kepada tuduhan pencucian uang di paling sedikit enam negara termasuka AS, Swiss dan Singapura itu. Najib membantah telah berbuat salah. Akan tetapi, Gedung Putih menyatakan tidak akan mengomentari penyelidikan oleh Departemen Kehakiman AS tersebut.