Kamis , 10 Agustus 2017, 06:30 WIB

Harga Minyak Dunia Naik Setelah Laporan Persediaan AS Terbit

Red: Nur Aini
VOA
Kilang minyak
Kilang minyak

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Harga minyak dunia naik pada Rabu (9/8), setelah laporan menunjukkan persediaan minyak mentah Amerika Serikat turun lebih besar dari yang diperkirakan.

Persediaan minyak mentah AS turun sebanyak 6,5 juta barel pada pekan yang berakhir 4 Agustus menjadi 475,4 juta barel, 3,6 persen di bawah tingkat setahun lalu, menurut sebuah laporan yang dikeluarkan oleh Badan Informasi Energi AS (EIA). Angka itu lebih besar dari perkiraan untuk penurunan 2,7 juta barel.

Para analis mengatakan data persediaan terbaru membantu meredakan kekhawatiran pasar tentang kelebihan pasokan global dan mendukung harga minyak pada Rabu (9/8). Harga atokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September, bertambah 0,39 dolar AS menjadi menetap di 49,56 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara itu, harga patokan Eropa, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Oktober, naik 0,56 dolar AS menjadi ditutup pada 52,70 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.

Aktivitas pengeboran minyak di AS memang menurun. Negara bagian Texas, Amerika Serikat, misalnya, hanya mengeluarkan 846 izin pengeboran minyak pada Juli, turun 27 persen dibandingkan Juni dan merupakan angka bulanan terendah sejak Januari, karena harga minyak yang merosot.

Houston Chronical pada Selasa (8/8) mengutip bank investasi Evercore ISI, melaporkan bahwa itu merupakan penurunan bulanan kedua berturut-turut di negara bagian tersebut, menandai pertama kalinya terjadi sejak akhir tahun lalu. Pemerintah negara bagian di seluruh Amerika Serikat mengeluarkan lebih sedikit izin pengeboran pada Juli, tanda terbaru bahwa perusahaan-perusahaan minyak membatasi aktivitas mereka karena harga minyak mentah merosot di bawah 50 dolar AS per barel.

Perusahaan minyak di seluruh negeri itu mengeluarkan 3.338 izin pengeboran pada bulan lalu, turun 23 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Linhua Guan, ketua Star Energy yang berbasis di Houston, mengatakan kepada Xinhua bahwa perusahaan-perusahaan di sektor minyak dan gas saat ini bermaksud mengurangi atau menghentikan aktivitas investasi, karena permintaan minyak saat ini lemah.

Sumber : Antara