Jumat , 19 Mei 2017, 08:23 WIB

BUMN Dirgantara Cina Siap Saingi Airbus dan Boeing

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Nidia Zuraya
comac
Fasilitas produksi pesawat terbang milik perusahaan dirgantara Cina,  Commercial Aircraft Corporation of China Ltd. (Comac).
Fasilitas produksi pesawat terbang milik perusahaan dirgantara Cina, Commercial Aircraft Corporation of China Ltd. (Comac).

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Cina akhirnya berhasil meluncurkan C919, pesawat dengan kapasitas penumpang dalam jumlah besar. Perusahaan plat merah, the Commercial Aircraft Corporation of China Ltd. (Comac) menyatakan mereka siap bersaing dengan Airbus dan Boeing.

Comac C919 yang baru saja menyelesaikan penerbangan uji coba perdana. Beijing akhirnya memutuskan mengambil jalur berbeda, yaitu membeli suku cadang dari perusahaan penerbangan Eropa dan AS dibanding mencuri teknologi serupa. Pesawat ini berkapasitas 158-174 kursi penumpang dan merupakan momen besar bagi Cina secara ekonomi dan politik.

"Comac C919 mendorong inovasi di Cina. Melihatnya terbang di langit biru membuat impian generasi muda Cina terwujud," tulis perwakilan pemerintah Cina, dilansir dari CNBC, Jumat (19/5).

C919 dirancang untuk penerbangan modern jarak pendek, menyaingi Airbus A320 dan Boeing-737. Cina sejak lama berambisi menyalip AS sebagai pasar penerbangan terbesar di dunia pada 2024 nanti.

Comac juga membangun sebuah jet regional yang ukurannya lebih kecil, disebut ARJ21. BUMN ini juga tengah mengembangkan pesawat jarak jauh bersama United Aircraft Corp Rusia.

Cina berusaha membangun pesawat penumpang berkapasitas besar sejak era Mao Zedong. Presiden Xi Jinping yang sering bepergian ke luar negeri dengan Boeing-747 yang dioperasikan Air China tampaknya dalam waktu dekat akan memilih terbang dengan C919, setidaknya beberapa tahun sebelum Comac diproduksi massal.

Xi sangat ingin menunjukkan kemajuan Cina di dunia penerbangan, terutama menjelang kongres partai untuk pemilihan umum berikutnya. Xi tampaknya berusaha memperkuat kekuasaannya di Negeri Tirai Bambu tersebut.

Jika C919 diproduksi massal, Comac akan bergabung dengan klub produsen pesawat dunia, seperti Airbus Eropa, Boeing Amerika, Bombardier Kanada, serta Sukhoi dan Tupolev Rusia.

Selain prestise, Cina ingin mengurangi ketergantungan pada produsen pesawat terbang asing, terutama Boeing dan Airbus. Sayap dan ekor pesawat ini dibuat di Cina, sementara sebagian besar komponen terpenting dan berteknologi canggih sementara masih dibeli dari perusahaan asing, seperti GE dan Safran untuk mesin, dan Honeywell untuk roda, rem, sistem komunikasi, dan sistem navigasi.