Jumat , 17 March 2017, 08:43 WIB

Arab Saudi Incar Industri Minyak Cina

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Nur Aini
reuters
Raja Salman dan Presiden Cina Xi Jinping
Raja Salman dan Presiden Cina Xi Jinping

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Saudi Arabian Oil Co. akan memperdalam investasi di industri minyak Cina, sebagai bagian penawaran potensial 65 miliar dolar AS yang ditandatangani kedua negara.

CEO produsen minyak mentah negara Arab Amin Nasser menandatangani nota kesepahaman dengan China North Industries Group Corp. pada Kamis untuk peluang minyak. Saudi Aramco dikenal sudah menjadi mitra dalam kilang dan pabrik petrokimia di dalam negeri. Sementara itu perusahaan Cina yang dikenal sebagai Norinco, memproduksi senjata dan mesin tapi juga memiliki unit penyulingan.

Perusahaan dari kedua negara menandatangani 22 perjanjian untuk mempelejari peluang investasi bersama dalam sebuah acara di Beijing. Perusahaan Cina akan melihat investasi 2 miliar dolar AS di sebuah pabrik petrokimia Jazan, di barat daya Arab Saudi. Perusahaan akan memasok energi surya, membangun bisnis e-commerce dan investasi sebuah taman bermain di Timur Tengah.

Raja Salman bin Abdulaziz di tengah-tengah tur Asianya sudah melihat potensi investasi, termasuk 13 miliar dolar AS pada proyek-proyek energi di Indonesia dan Malaysia. Saudi yang selama ini bergantung pada minyak tengah berusaha melakukan diversifikasi ekonomi.

"Arab Saudi juga perlu pasar baru dan mitra ekonomi untuk membantu negara bertransformasi ekonom dari ketergantungan pada minyak, dan Cina merupakan target sempurna," kata Mantan Duta Besar Cina untuk Turki Yao Kuangyi dilansir Bloomberg.

Para pejabat dari kedua negara telah mendiskusikan kemungkinan investasi di China Investment Corp, dana kekayaan kedualatan negara. Begitu juga dngan China National Petroleim Corp yang mungkin terlibat investasi. Namun menurut mereka tidak ada perjanjian resmi yang telah tercapai.

Hong Kong, Tokyo, dan Singapura merupakan lokasi di Asia yang telah diidentifikasi sebagai kemungkinan tempat untuk mencatatkan saham Aramco. Perusahaan akan berada di daftar utama bursa domestik Arab Saudi dan tampaknya akan mengevaluasi pasar lain termasuk New York atau London.

Setelah acara penandatanganan Kamis (16/3) di Great Hall of the People Beijing, Presiden Cina Xi Jinping bersama Raja Salman mengatakan, kunjungan itu merupakan upaya kedua negara dalam mengembangkan hubugan kedua negara.

"Hasilnya telah melampaui harapan kami," katanya mengomentari kesepakatan yang dicapai.

Menurut data IMF, total perdagangan antara Cina dan Arab Saudi mencapai lebih dari dua kali lipat menjadi 54 miliar dolar AS antara 2006 dan 2015.