Rabu , 04 January 2017, 16:36 WIB

Ekspor Sarang Burung Walet ke Cina Meningkat

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Winda Destiana Putri
Antara/Budi Candra Setya
 Pekerja penangkaran burung walet menyortir sarang walet selepas panen.
Pekerja penangkaran burung walet menyortir sarang walet selepas panen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia mengalami peningkatan volume ekspor sarang burung walet ke Cina senilai 7,5 juta dolar AS pada 2016. Peningkatan tersebut terjadi setelah ekspor Indonesia ke Cina secara langsung tanpa pihak ketiga.

"Itu meningkat sekitar 56 persen dibanding tahun sebelumnya," ujar Kepala Badan Karantina Kementerian Pertanian Banun Harpini kepada wartawan usai Rapat Kerja Nasional Kementan di Hotel Bidakara, Rabu (4/1).

Selain faktor tersebut, peningkatan ini juga disebabkan tingginya sumber bahan baku sarang walet dan kemampuan Indonesia mengendalikan flu burung. "Karena itu ada standar tertentu dengan pengolahannya, pemanasannya dan sebagainya untuk ekspor sarang walet," kata dia.

Sejak 2013, kata dia, Indonesia sudah mempersiapkan diri untuk melakukan ekspor unggas. Banun mengatakan, pihaknya sudah melakukan zonasi wilayah bebas flu burung atau paling tidak yang bisa mengendalikan flu burung. Pengendalian flu burung dapat dilakukan dengan pemanasan tertentu dan biosecurity yang baik. "Sehingga kita sekarang siap untuk ekspor," ujarnya.

Selain sarang walet, Indonesia juga mengekspor produk unggas lainnya. Tahun lalu, Indonesia mulai mengekspor telur tetas ke Myanmar. "Ke Myanmar sudah 450,1 ton telur untuk ditetaskan," lanjut dia.

Di tahun yang sama yakni 2016 akhir, Indonesia juga sudah melakukan pembicaraaan ekspor daging ayam beku dengan Korea Selatan dan Jepang. Ia mengatakan, secara SPS kedua Negara telah setuju, tinggal melakukan negosiasi harga.

Wilayah perbatasan seperti Papua Nugini dan Timor Leste diakui Banun sudah menerima produk unggas kita
Namun ekspor tersebut belum tercatat secafa statistik karena belum adanua tandatangan kesepakatan atau MOU. "Tahun ini kita akan segera signing," katanya.

Sementara itu terkait wabah flu burung yang kini menerpa Cina, Banun mengatakan, virus tampaknya telah bermutasi dari H5N1 menjadi H7N9. "Itu sudah terdeteksi dan menginfeksi manusia," katanya.

Namun ia meminta masyarakat tidak risau karena sejak 2013, Indonesia sudah melakukan penghentian  masuknya DOC juga produk segar terkait unggas seperti daging segar untuk ayam maupun itik.

Diakui Banun, pihaknya pernah melakukan pemusnahan pemasukan unggas ilegal asal Cina. Unggas tersebut masuk ke Indonesia melalui  jalur Malaysia. "Antara lain bebek dan itu kita musnahkan kemarin akhir-akhir 2016," ujarnya.

Tidak hanya melarang masuknya unggas dari Cina maupun pemusnahan, ia melanjutkan, Indonesia juga melakukan pengetatan di domestik antar area. Sebelumnya, pada akhir 2016, Indonesia menutup masuknya DOC dan produk unggas segar dari tujuh negara selain cina. Sebab, Organisasi Kesehatan Hewan Dunia memasukkan negara-negara tersebut terkena wabah flu burung.

Selain menutup masuknya unggas dari Negara terkena wabah, secara terus menerus pihaknya berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk memitigasi dan memonitor di wilayah-wilayah apabila terdapat indikasi adanya virus tersebut. "Tapi sampai sekarang nggak ada informasi apapun terkait itu," ujarnya.