Rabu , 28 September 2016, 08:57 WIB

WTO: Pertumbuhan Perdagangan 2016 Paling Lambat

Red: Nidia Zuraya
Ekspor-impor (ilustrasi)
Ekspor-impor (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Perdagangan global akan tumbuh lebih lambat dari yang diperkirakan pada 2016, meningkat hanya 1,7 persen, jauh di bawah perkiraan April di 2,8 persen, menurut estimasi Organisasi Perdagangan Dunia (WYO) terbaru yang dipublikasikan pada Selasa (27/9).

Dengan memperkirakan pertumbuhan PDB dunia 2,2 persen pada 2016, tahun ini akan menandai laju perdagangan dan pertumbuhan output paling lambat sejak krisis keuangan 2009. Penurunan proyeksi itu menyusul penurunan yang lebih tajam dari perkiraan dalam volume perdagangan barang-barang pada kuartal pertama, serta rebound lebih kecil dari yang diantisipasi pada kuartal kedua.

Kontraksi didorong oleh pelambatan pertumbuhan PDB dan perdagangan di negara-negara berkembang seperti Cina dan Brasil, tetapi juga di Amerika Utara, yang memiliki pertumbuhan impor terkuat dari kawasan manapun pada 2014-15, tetapi sejak itu melambat.

"Pelambatan dramatis pertumbuhan perdagangan sangat serius dan seharusnya menjadi awal kebangkitan kembali. Hal ini terutama mengkhawatirkan dalam konteks berkembangnya sentimen anti-globalisasi," kata Direktur Jenderal WTO Roberto Azevedo.

"Kita perlu memastikan bahwa ini tidak diterjemahkan ke dalam kebijakan yang salah arah, yang bisa membuat situasi lebih buruk, tidak hanya dari perspektif perdagangan tetapi juga untuk penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi serta pembangunan yang sangat erat terkait dengan sistem perdagangan terbuka," tutur Azevedo menambahkan.

WTO memperkirakan bahwa perdagangan dapat meningkat di paruh kedua tahun ini, meskipun laju ekspansinya kemungkinan akan tetap lemah. Perkiraan untuk 2017 juga telah direvisi, dengan perdagangan sekarang diperkirakan akan tumbuh antara 1,8 persen hingga 3,1 persen, turun dari sebelumnya 3,6 persen.

WTO mengatakan prospeknya untuk sisa tahun ini dan tahun depan dipengaruhi oleh sejumlah ketidakpastian, termasuk volatilitas keuangan yang berasal dari perubahan kebijakan moneter di negara-negara maju, kemungkinan bahwa meningkatnya retorika anti-perdagangan akan semakin tercermin dalam kebijakan perdagangan, serta dampak-dampak potensial keputusan Brexit di Inggris, yang telah meningkatkan ketidakpastian tentang pengaturan perdagangan masa depan di Eropa, wilayah di mana pertumbuhan perdagangannya relatif kuat.

 

Sumber : Antara