Selasa , 10 October 2017, 13:50 WIB

Tolak Bahaya Rokok dengan Sedekah

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Agus Yulianto
ABC News
Bahaya merokok. (ilustrasi)
Bahaya merokok. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lazismu Cabang Muhammadiyah Kebayoran Baru, sebagai lembaga zakat, infaq, dan sedekah, melakukan gerakan 'Tolak Rokok dengan Sedekah'. Gerakan ini sebagai upaya untuk menolak iklan, promosi dan sponsor terkait roko. Apalagi, Indonesia saat ini sedang dalam kondisi darurat epidemi rokok.

Slogan 'Tidak Merokok Keren, Sedekah Hebat' menyuarakan cara efektif berhenti merokok adalah dengan sedekah. Salah satunya juga adalah dengan launching Tabungan QurbanMu, penyerahan donasi kemanusiaan Rohingya, dan Tabligh Akbar.

"Tabungan ini berasal dari para siswa yang menabung, kita ada kerja sama juga dengan bank-bank syariah yang menjadi mitranya Muhammadiyah Kebayoran Baru. Nanti akhir tahun, menjelang Idul Adha, itu tabungannya ditarik dan digunakan untuk kegiatan Qurban," papar Ketua Cabang Muhammadiyah Kebayoran Baru, Edi Sukardi saat ditemui Republika.co.id, di tengah acara Selasa (10/10) pukul 11.00 WIB.

Kematian yang diakibatkan oleh rokok, persentasenya terus meningkat di Indonesia, lebih parahnya tingkat prevelansi perokoknya meningkat dari tahun ke tahun. Lebih dari sepertiga (36,3 persen) penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas adalah perokok.

Prevelansi perokok laki-laki meningkat 53,4 persen pada 1995, menjadi 66 persen pada 2013. Perokok perempuan juga meningkat dari 1,7 persen pada 1995, menjadi 6,7 persen pada 2013. Prevelansi perokok remaja usia 15-19 tahun juga meningkat dari 7,1 persen pada 1995, menjadi 20,5 persen pada 2013.

Selain tingkat prevelansi perokok, berdasarkan data Badan Kebijakan Fiskal Produksi rokok di Indonesia semakin meningkat, di mana kenaikan dari 2014, yakni 344,52 miliar batang rokok, menjadi 348,12 miliar batang pada 2015.

Melihat fakta mengerikan itu, Edi sudah melakukan pencegahan di sekitar wilayah sekolah Muhammadiyah yang terletak di Jalan Limau 3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. "Misalnya di sekolah, kita minta agar mereka yang merokok, bisa terus dibina untuk tidak merokok," ujar dia.

Jika para murid tidak bisa juga dibina, maka pihak sekolah akan mengembalikan ke orang tua mereka. Menurut dia, rokok itu menular, apalagi ketika berkumpul dengan teman-teman mereka, pasti dalam lingkungan anak remaja, jika tidak merokok akan disebut norak dan sebagainya.

Tabungan Qurban Muhammadiyah sendiri, sudah diberlakukan sejak sekitar 20 tahun lalu, dari tingkat SD, SMP, dan SMA. Tapi kali ini, tabungan Qurban sengaja diwajibkan untuk pengalihan bahaya merokok itu untuk disimpan tabungan Qurban. "Selesai acara ini akan di-list mereka yang akan daftar tabungan," ujar Edi.



Berita Terkait