Jumat , 23 Juli 2010, 18:39 WIB

Puluhan Murid TK Gelar Pengumpulan Koin Selamatkan Monumen Sudirman

Red: Krisman Purwoko

REPUBLIKA.CO.ID,PACITAN--Puluhan siswa Taman Kanak-Kanak (TK) di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, menggelar aksi pengumpulan koin untuk menyelamatkan monumen Panglima Besar Jenderal Sudirman dari rencana pelelangan. Aksi simpati yang berlangsung di halaman TK Az-Zahwa, Kelurahan Sidoharjo, Kecamatan Pacitan sejak Rabu pagi hingga siang itu menarik perhatian warga yang melintas di kawasan tersebut.

Penyebabnya, para siswa yang masih imut-imut itu tidak hanya melakukan pengumpulan koin bersama dipandu beberapa guru dan walimurid, tetapi juga sempat menggelar aksi teatrikal. "Aksi tadi pagi kami mulai dengan menceritakan kisah kepahlawanan Panglima Sudirman serta kontribusinya dalam perjuangan membentuk NKRI. Ini merupakan salah satu media pembelajaran kami kepada siswa secara interaktif," kata Khoirul Amin, salah seorang pengajar TK Az-Zahwa.

Meski sebagian harus berada di bawah terik matahari, hal itu sama sekali tidak membuat anak-anak ini beranjak dari tempat duduknya.  Sebaliknya, mereka justru terlihat antusias ketika diajak berinteraksi mengenai kisak-kisah perjuangan Jendral Sudirman.

Usai pembacaan puisi oleh salah seorang siswa, aksi simpati oleh anak-anak TK ini kemudian disudahi oleh panitia.  Tetapi sembari beranjak dari lokasi aksi, satu-persatu koin dukungan untuk mempertahankan patung dan monumen Pangsar Sudirman dari rencana pelelangan mereka masukkan ke dalam toples besar yang disediakan panitia. "Kami sengaja tidak menghitung jumlahnya. Namun yang lebih penting adalah bagaimana mendidik semangat anak-anak ini agar bisa menghargai jasa para pahlawannya," ujar Khoirul Amin.

Rencananya, koin-koin tersebut kemudian akan diserahkan ke Pemkab Pacitan.  Khusus menyangkut wacana lelang monumen Pangsar Sudirman, Khoirul dan sejumlah guru TK Az-Zahwa menyatakan prihatin akan perkembangan tersebut.

Siapapun dan apapun latar belakang diunggahnya status lelang monumen Pangsar Sudirman di internet, menurut Khoirul dan beberapa guru TK, pelakunya dianggap tidak bertanggung jawab dan tidak memiliki rasa cinta tanah air. "Itu seperti pengkhianatan terhadap jasa para pahlawan," kecamnya.

Sumber : ant