Kamis , 21 Juli 2016, 09:21 WIB

Dompet Dhuafa Gencarkan Kampanye Wakaf Produktif

Rep: Sri Handayani/ Red: Damanhuri Zuhri
Antara
Ismail A Said
Ismail A Said

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dompet Dhuafa (DD) terus menggencarkan kampanye memasyarakatkan wakaf produktif di Indonesia. Serangkaian dengan acara halal bihalal, DD juga meluncurkan buku berjudul “Sekilas Kesan dan Pesan Perjalanan 20 Tahun YAWADAI & al-Syukro,” Rabu (20/7) di Tangerang Selatan.

“Sejak 2 November 2010, Perguruan Islam al-Syukro Universal di atas tanah 2,75 hektar diwakafkan kepada Yayasan Dompet Dhuafa Republika, sebagai nadzir (pengelola wakaf). Wakaf ini dilakukan dengan tujuan agar harta benda wakaf dapat dilanjutkan pengelolaan dan pengembangannya menjadi lebih maju ke depannya,” ungkap Penasehat sekaligus Pendiri Perguruan Islam Al Syukro, Buli Oskar Surjaatmadja, seperti diterangkan dalam keterangan tertulis, Rabu (20/7).

Perguruan Islam al-Syukro merupakan salah satu model pengembangan wakaf produktif. Lembaga yang berlokasi di Ciputat, Tangerang Selatan, ini terdiri dari tiga jenjang pendidikan mulai dari TK, SD, hingga SMP.

Sebelumnya, perguruan ini dikelola Yayasan Wakaf Daar Asykaril ‘Ibaad (YAWADAI). Penyerahan ini diharapkan dapat membuat perguruan Islam al-Syukro berkembang lebih maju menjadi pendidikan terpadu hingga tingkat SMA, bahkan perguruan tinggi. “Maka dibutuhkan nadzir yang siap untuk mengelolanya. Adapun Yayasan Dompet Dhuafa Republika dianggap telah siap untuk mengembangkan dan memajukannya,” ujar Buli.

Dewan Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa Republika, Ismail A. Said, mengatakan wakaf merupakan salah satu instrument besar dalam mengangkat harkat dan martabat kaum dhuafa. Melalui Perguruan Islam al-Syukro Universal, DD diharapkan dapat mencetak siswa berkualitas dengan pengelolaan manajemen yang andal, mandiri finansial, dan mampu mengembangkan fasilitas pendidikan yang telah ada.

Ismail juga mencontohkan lahan produktif lain yang didirikan dari dana wakaf, misalnya kontrakan di wilayah Ciledug, beberapa rumah toko (ruko) dan food court di Bekasi, serta pusat pertemuan dan pelatihan di Gedung Wardah, Karawaci.

Semua bisnis sosial di atas dikelola Dompet Dhuafa sebagaimana usaha pada umumnya. Upaya ini berorientasi pada pengelolaan yang efektif dan efisien, serta mampu menghasilkan surplus seoptimal mungkin.

“Dengan demikian, upaya untuk membangun umat, mengangkat harkat dan martabat kaum dhuafa menjadi lebih maksimal karena transparan dan akuntabel selain ditopang sumber pendanaan yang terus berkembang, melalui wakaf produktif termasuk penguatan di bidang pendidikan,” jelas Ismail.

Ia menambahkan, Singapura sebagai negara minoritas Muslim justru selangkah lebih maju dalam mengelola dan memanfaatkan aset wakaf secara produktif. Di negara tersebut, aset wakaf dibangun menjadi apartemen, pertokoan, klaster, dan unit-unit komersial lain. Keuntungan dari aset-aset tadi digunakan untuk membiayai operasional masjid, bantuan sosial, dan aktivitas sosial keagamaan lain.