Jumat, 10 Jumadil Awwal 1434 / 22 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Muslim Aid Berdayakan Perempuan Bantul dan Gunungkidul

Minggu, 10 Maret 2013, 02:00 WIB
Komentar : 0
ANTARA/Noveradika
Seorang pekerja menyelesaikan pembuatan peci di Dusun Bedukan, Pleret, Bantul, Yogyakarta, Selasa (26/7). Mendekati Ramadhan, produksi peci yang dijual dengan harga Rp 7.000 hingga 17.000 meningkat hingga 200 %.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Untuk mendukung pencapaian MDGs (Millenium Development Goals), Muslim Aid Cabang Yogyakarta melakukan pemberdayaan dan penguatan kapasitas kepada kelompok perempuan di wilayah Kabupaten Bantul dan Gunungkidul.

''Pemberdayaan dilakukan melalui pemberian pelatihan ketrampilan sesuai kebutuhan kelompok, pelatihan wirausaha dan pemasaran, penguatan kelompok, pendampingan serta memfasilitasi akses modal usaha dan jaringan pasar,'' kata Koordinator Muslim Aid Yogyakarta, Suharti pada Republika Sabtu (9/3)

Imran Madden, pimpinan International Programme Muslim Aid London didampingi Country Director Muslim Aid Indonesia Mahfuzur Rahman mengunjungi Gunungkidul dan Bantul guna melihat dari dekat kinerja dan pencapaian program yang digulirkan.

Ke Gunungkidul, tempat yang mereka kunjungi adalah kelompok pembuatan tas dan berbagai produk kreatif lainnya dan  kelompok usaha di bidang olahan makanan, seperti usaha rumahan telor asin dan peyek.

Sementara itu selama kunjungan ke Bantul mereka mengunjungi kelompok pembuat kerajinan rajut dan kelompok pembuat furniture dari bambu. Berkat pelatihan yang diberikan Muslim Aid, kelompok pembuat furniture bambu yang menamakan diri Deling Aji juga mengolah limbah kerajinan bambu.

Biasanya, limbah kerajinan bambu itu hanya dijadikan kayu bakar, kini diolah menjadi arang bambu yang memiliki nilai ekonomis dan manfaat yang jauh lebih tinggi seperti: menghilangkan bau kurang sedap di almari, di kulkas dan di kamar mandi, dapat digunakan untuk menjernihkan minyak goreng, membuat nasi pulen, serta mengurangi radiasi peralatan elektronik.

Dalam kunjungan ke kelompok rajut di Bantul, tim sangat kagum dengan kemampuan dan ketangkasan  Minar dalam membuat kerajinan rajut. Produk rajut berupa berbagai model tas dan dompet.

Bahkan kini produk rajutnya merambah pasar Malaysia melalui jaringan pasar yang difasilitasi Muslim Aid. Minar mengaku telah mengalami kemajuan yang cukup signifikan setelah didampingi Muslim Aid.

Kini Minar diminta Muslim Aid untuk melatih 25 perempuan anggota kelompok dampingan Muslim Aid di Pleret untuk membuat kerajinan rajut.

Imran Madeen merasa senang dan terkesan dengan kunjungan satu hari di Yogyakarta karena  dapat  bertemu dan berbincang secara langsung dengan masyarakat dampingan Muslim Aid. 

Dia berharap  yang dilakukan Muslim Aid dapat memberikan manfaat dan kemajuan yang signifikan bagi masyarakat yang membutuhkan. Di samping itu juga membuat  kehidupan ke arah yang lebih baik dan maju.
n

Reporter : neni ridarineni
Redaktur : Damanhuri Zuhri
1.770 reads
Sebaik-baik menjenguk orang sakit adalah berdiri sebentar (tidak berlama-lama) dan ta'ziah (melayat ke rumah duka) cukup sekali saja.((HR. Ad-Dailami))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda

  VIDEO TERBARU
Geliat Perkembangan Muslim Cina
Pemerintah Komunis berencana untuk membangun masjid di seluruh negeri. Hal ini, merupakan implementasi guna memenuhi tuntutan 20-an juta warga Muslim di negeri itu.Menurut...

Berita Lainnya

IAEI-STEI SEBI Gelar Seminar Zakat