REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Untuk mendukung pencapaian MDGs (Millenium Development Goals), Muslim Aid Cabang Yogyakarta melakukan pemberdayaan dan penguatan kapasitas kepada kelompok perempuan di wilayah Kabupaten Bantul dan Gunungkidul.
''Pemberdayaan dilakukan melalui pemberian pelatihan ketrampilan sesuai kebutuhan kelompok, pelatihan wirausaha dan pemasaran, penguatan kelompok, pendampingan serta memfasilitasi akses modal usaha dan jaringan pasar,'' kata Koordinator Muslim Aid Yogyakarta, Suharti pada Republika Sabtu (9/3)
Imran Madden, pimpinan International Programme Muslim Aid London didampingi Country Director Muslim Aid Indonesia Mahfuzur Rahman mengunjungi Gunungkidul dan Bantul guna melihat dari dekat kinerja dan pencapaian program yang digulirkan.
Ke Gunungkidul, tempat yang mereka kunjungi adalah kelompok pembuatan tas dan berbagai produk kreatif lainnya dan kelompok usaha di bidang olahan makanan, seperti usaha rumahan telor asin dan peyek.
Sementara itu selama kunjungan ke Bantul mereka mengunjungi kelompok pembuat kerajinan rajut dan kelompok pembuat furniture dari bambu. Berkat pelatihan yang diberikan Muslim Aid, kelompok pembuat furniture bambu yang menamakan diri Deling Aji juga mengolah limbah kerajinan bambu.
Biasanya, limbah kerajinan bambu itu hanya dijadikan kayu bakar, kini diolah menjadi arang bambu yang memiliki nilai ekonomis dan manfaat yang jauh lebih tinggi seperti: menghilangkan bau kurang sedap di almari, di kulkas dan di kamar mandi, dapat digunakan untuk menjernihkan minyak goreng, membuat nasi pulen, serta mengurangi radiasi peralatan elektronik.
Dalam kunjungan ke kelompok rajut di Bantul, tim sangat kagum dengan kemampuan dan ketangkasan Minar dalam membuat kerajinan rajut. Produk rajut berupa berbagai model tas dan dompet.
Bahkan kini produk rajutnya merambah pasar Malaysia melalui jaringan pasar yang difasilitasi Muslim Aid. Minar mengaku telah mengalami kemajuan yang cukup signifikan setelah didampingi Muslim Aid.
Kini Minar diminta Muslim Aid untuk melatih 25 perempuan anggota kelompok dampingan Muslim Aid di Pleret untuk membuat kerajinan rajut.
Imran Madeen merasa senang dan terkesan dengan kunjungan satu hari di Yogyakarta karena dapat bertemu dan berbincang secara langsung dengan masyarakat dampingan Muslim Aid.
Dia berharap yang dilakukan Muslim Aid dapat memberikan manfaat dan kemajuan yang signifikan bagi masyarakat yang membutuhkan. Di samping itu juga membuat kehidupan ke arah yang lebih baik dan maju.
n