Sabtu, 19 Jumadil Akhir 1435 / 19 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Apakah Wajib Bagi Istri Bekerja

Kamis, 04 September 2008, 07:37 WIB
Komentar : 0
Assalaamu'alaikum wr wb. Saya ingin bertanya mengenai wanita bekerja. Apakah hukumnya wanita bekerja yang menyerahkan gajinya kepada orangtua dan keluarganya tanpa sepengetahuan suamiya? Apakah wajib bagi istri bekerja melaporkan semua penghasilannya kepada suaminya termasuk penggunaanya? Bagaimana sebetulnya sikap yang baik dalam mengelola keuangan keluarga. Berhakkah orangtua atau mertua ikut campur dalam mengatur rumah tangga anaknya?

Wassalam,
l_lubis@yahoo.com


Alquran menyatakan bahwa lelaki mempunyai hak atas hasil usahanya dan perempuan pun mempunyai hak atas hasil usaha mereka (Baca Q.S. an-Nisa: 32). Atas dasar itu, seorang isteri yang bekerja berhak penuh atas hasil usahanya, untuk apapun dan kepada siapa pun hasilnya itu digunakan atau diberikan, selama penggunaannya itu secara halal walaupun tanpa pengetahuan atau restu suami.

Demikian juga halnya dengan suami. Perlu dicatat bahwa istri tidak berkewajiban dari segi hukum untuk menggunakan penghasilannya itu guna keperluan hidup berumah tangga, karena ini adalah kewajiban suami bukan kewajiban istri. Seorang suami apabila telah memenuhi kebutuhan yang wajar dari isteri dan anak-anaknya, ia dapat menggunakan secara halal semua hasil perolehannya untuk apapun dan siapapun.

Itulah jawaban dari segi hukum. Namun perlu diingat, bahwa kehidupan rumah tangga, harus dibina dengan kerjasama dan hubungan harmonis. Keterbukaan hendaknya menjadi dasar kehidupan suami ieteri. Ketidak percayaan dapat menimbulkan keretakan hidup rumah tangga, karena itu masing-masing harus menghidarkan dari dirinya sebab-sebab yang menimbulkan kecurigaan itu.

Menyangkut pertanyaan anda tentang batas campur tangan mertua dalam kehidupan keluarga /rumah tangga anaknya, maka berikut ini saya kutipkan pendapat pakar Alquran, Sayyid Muhammad Rasyid Ridha. Ulama itu menulis bahwa : Tidak termasuk sedikitpun (dalam kewajiban berbuat baik/berbakti kepada kedua orang tua,) sesuatu yang mencabut kemerdekaan dan kebebasan pribadi atau rumah tangga atau jenis-jenis pekerjaan yang bersangkut paut dengan pribadi anak, agama atau negaranya.

Jadi apabila keduanya atau salah seorang bermaksud memaksakan pendapatnya menyangkut kegiatan-kegiatan anak, maka bukanlah dari bagian berbuat baik atau kebaktian menurut syarat /agama meninggalkan apa yang kita (anak) nilai kemaslahatan umum atau khusus, dengan mengikuti pendapat atau keinginan mereka, atau melakukan sesuatu yang mengandung mudarat umum atau khusus dengan mengikuti pendapat keduanya. Demikian, Wa Allah A'lam.
Sesungguhnya seorang pemimpin itu merupakan perisai, rakyat akan berperang di belakang serta berlindung dengannya. Bila ia memerintah untuk takwa kepada Allah azza wa jalla serta bertindak adil, maka ia akan memperoleh pahala. Namun bila ia memerintah dengan selainnya, maka ia akan mendapatkan akibatnya.(HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar
  amin Jumat, 5 Mei 1905, 18:35
perempuan bekerja(dominan ngurus kantor) apakah sama dengan perempuan yang kesehariannya mengurus rumah tangga(mengurus emua keprluan anak dan suami ) ?

  VIDEO TERBARU
Konsep SPBU ini Jadi Tren di AS
WASHINGTON -- Bayangkan, mengisi bensin sekaligus menikmati hidangan lezat yang dimasak langsung? Konsep yang sedang tren di Amerika ini memungkinkan warga memaksimalkan waktu...