Senin, 6 Zulqaidah 1435 / 01 September 2014
find us on : 
  Login |  Register
Rabu, 03 September 2008, 01:42 WIB

Pakaian Shalat

Assalamu'alaikum Wr Wb.
Saya ingin menanyakan beberapa hal tentang shalat.
1. Apakah sah shalat menggunakan pakaian yang ada rendanya dan tulisannya seperti merek sarung dll atau menggunakan baju batik yang banyak coraknya karena sangat mengganggu orang yang shalat di belakangnya?
2. Boleh tidak shalat sambil memejamkan mata?
3. Bagaimana hukumnya orang yang melewati orang yang sedang shalat, berapa jarak yang boleh dilewati?
4. Bagaimana cara shalat berjamaah untuk dua orang?
5. Bila kita sedang shalat sunnah terus ada yang ikut berjamaah, bagaimana hukumnya?
6. Bagaimana hukum orang yang shalat Jumat masbuk tertinggal satu rakaat?

Wassalam.

Wandi
Jawa Tengah


1. Anda boleh memakai pakaian apa pun selama tidak najis untuk melaksanakan shalat. Memang jika pakaian itu dapat mengurangi kekhusyu'an, maka hukumnya menjadi makruh. Memang ada sementara ulama yang tidak membolehkan memakai pakaian yang ada gambar-gambar makhluk hidupnya. Ini didasarkan oleh Hadis-Hadis yang melarang menggambar makhluk hidup.

Tetapi pendapat tidak lagi popular, karena larangan menggambar makhluk hidup muncul karena pada masa Jahiliah dan masa Nabi masih ada orang yang membuat gambar/patung-patung yang mereka sembah. Agaknya kini, hal semacam itu hampir tidak ada lagi, lebih-lebih bagi seorang Muslim.

2. Tidak ada larangan untuk shalat sambil memejamkan mata, kalau memang hal tersebut membantu guna meraih kekhusyu'an.

3. Makruh yang sangat besar hukumnya melewati arah depan seseorang yang sedang shalat. Nabi Muhammad SAW bersabda, ''Bila seorang yang melewati arah depan seorang mengetahui apa yang dipikulnya dari keburukan akibat melewati arah depan yang shalat itu, niscaya dia akan berdiri menanti selesainya yang shalat walau selama empat puluh.''

Perawi Hadis ini berkata, ''Saya tidak tahu, apakah yang dimaksud adalah 40 hari, atau bulan atau tahun. (HR Bukhari dan Muslim). Untuk menghilangkan kemakruhan itu maka dianjurkan meletakkan sesuatu yang melintang di hadapan yang shalat.

4. Imam berdiri di depan dan makmum (yang mengikutinya) berada di belakangnya pada arah sebelah kanannya.

5. Boleh mengikuti imam yang shalat sunnah walau Anda melaksanakan shalat wajib, dengan syarat shalat sunnah itu mempunyai bentuk berdiri, ruku', sujud dan lain-lain yang serupa dengan shalat wajib yang dikerjakan. Karena itu tidak sah shalat wajib jika mengikuti imam yang shalat jenazah atau shalat istisqa'.

6. Kalau hanya tertinggal satu rakaat, maka ia cukup menambah satu rakaat lagi. Tetapi kalau mengikuti imam setelah ia mengangkat kepala dari ruku pada rakaat kedua, maka yang bersangkutan mengikutinya sambil niat shalat Jumat makmum, tetapi dia harus menyempurnakan shalatnya menjadi empat rakaat sempurna. Inilah yang niat tetapi tidak shalat, dan shalat tetapi tidak niat. Demikian Wallahu A'lam.
Berita Terkait:
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda
Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya ketika saling berjumpa di hari Ied mereka mengucapkan: Taqabbalallahu Minna Wa Minka (Semoga Allah menerima amal ibadah saya dan amal ibadah Anda)(HR Imam Ahmad dalam Al Mughni (3/294))