REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Buku tentang kenangan wartawan yang meliput perhelatan ibadah haj tahun 1433 H diluncurkan, Kamis (14/3).
Buku berjudul 'Talbiyah di Tanah Haram' ini merupakan tulisan jurnalis peliput prosesi ibada haji tahun 2012 selama berada di Tanah Suci.
Buku itu berkisah tentang pengalaman wartawan yang berisi cerita-cerita unik saat meliput haji. Sebanyak 57 tulisan disajikan dengan bahasa khas masing-masing penulis. Ada 18 petugas Media Center Haji (MCH) yang terlibat dalam penulisan kisah-kisah seputar ibadah haji ini.
Hadirnya buku ini, dinilai untuk memberi rasa lain tentang penyelenggaraan haji. Berbeda dengan tulisan jurnalis di media massa, tulisan dalam 'Talbiyah di Tanah Haram' lebih menyentuh sisi-sisi humanis dari tiap peristiwa.
Menteri Agama Suryadharma Ali mengatakan dirinya menyesal lahirnya buku ini bukan sejak awal dirinya menjabat. Menurutnya apa yang disajikan dalam buku memoar wartawan haji ini sangat indah.
"Indah dengan bahasanya, peristiwa dan kisah unik yang sangat humanis," kata Suryadharma dalam acara peluncuran buku 'Talbiyah ditanah haram' di Jakarta, Kamis (14/3).
Dalam sambutannya yang dituliskan dalam buku itu, Suryadharma menyebut tiga hal menarik setelah membaca tulisan pegiat MCH. Pertama, kata dia, ibadah haji adalah cita-cita ibadah, sosial dan kultural dari jutaan muslim di Indonesia dari berbagai strata sosial. Kedua, banyak usaha yang dilakukan seperti dari sisi moral, spiritual dan bahkan material oleh calon jamaah haji untuk melakukan perjalanan haji.
"Ketiga, meskipun menghadapi masalah adaptasi fisik, sosial, kultural dan keterbatasan pelayanan, jamaah tetap bersemangat menuntaskan seluruh prosesi ibadah haji dan pulang menjadi haji yang mabrur," kata Suryadharma Ali.
Buku yang terdiri dari 261 halaman ini diterbitkan oleh Penerbit Mizan dan didistribusikan oleh Mizan Media Utama.
Sang editor, Anggito Abimanyu yang juga Direktur Jenderal Penyelenggara Haji dan Umroh (PHU) mengatakan, penulis mengikhlaskan royalti dari hasil penjualan buku ini untuk disumbangkan. Artinya, kerja pegiat MCH untuk menuangkan tulisan sepenuhnya berlandaskan keikhlasan.
Tulisan dalam buku ini, menurut Anggito, sengaja dibuat ringan agar lebih mudah dimengerti. Menurut dia, buku tersebut disajikan dengan bahasa yang sederhana, dialogis, ringan, dan renyah.
"Ada kisah ritual, serius, kebahagiaan, kegembiraan, kesedihan, inspirasi, insiden serta keanehan selama di Tanah Suci," ungkap Anggito.
Setelah diluncurkan, buku 'Talbiyah di Tanah Haram' akan mudah ditemui di toko-toko buku. Sekali lagi, kata Anggito, tidak ada niat untuk mencari untung dari penulis, hanya untuk beramal dan beribadah.