Jumat, 10 Jumadil Awwal 1434 / 22 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Wah, Anggito Abimanyu Naik Bajaj di Padang Arafah

Selasa, 30 Oktober 2012, 13:24 WIB
Komentar : 0
istimewa
Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Anggito Abimanyu naik bajaj di Arafah.

REPUBLIKA.CO.ID, Bajaj -- kendaraan roda tiga -- ternyata tak cuma ada  di Jakarta dan kota-kota di India. Di  Padang Arafah pun kendaraan yang bunyinya sangat khas itu juga dikerahkan untuk membantu jamaah haji.

Anggito Abimanyu, dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah adalah salah satu jamaah yang beruntung bisa menumpang bajaj di Padang Arafah. ‘’Salah satu hal yang paling berkesan buat saya bisa naik bajaj di Arafah,’’ tutur Anggito sembari tersenyum.

Ia mengaku tak menyangka bisa naik bajaj. Saat itu, Anggito berkunjung ke maktab-maktab untuk melihat langsung kondisi jamaah haji Indonesia yang sedang wukuf di tenda-tenda.

‘’Waktu itu, saya sedang berkunjung ke maktab jamaah khusus,’’ ungkap pria kelahiran Bogor, 19 Februari 1963 itu. Ia memantau langsung pelayanan yang diberikan haji khusus bersama tim pengawas dan pengendali penyelenggara ibadah haji khusus (PIHK).

Namun, saat akan pulang ke tenda di maktab Misi Haji Indonesia, hari sudah sore. ‘’Saat itu, bus juga jarang dan penuh terus,’’ tutur mantan kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan itu.

Anggito pun memutuskan berjalan kaki menuju maktab Misi Haji Indonesia. Saat akan berjalan kaki, datanglah bajaj melintas.  Kemudian, bajaj pun disetop. ‘’Ada petugas yang bilang pada sopir bajaj kalau yang naik adalah Dirjen Haji dan Umrah. Wah, sopirnya langsung senang,’’ papar dosen UGM itu.

Dengan riang sang sopir mengantarkan Anggito ke maktab Misi Haji Indonesia. ‘’Sopirnya bilang senang mengantar saya dan tak perlu membayar alias gratis,’’ kata Anggito berkisah. 

Bajaj-bajaj itu memang disediakan Pemerintah Arab Saudi untuk sarana transportasi bagi jamaah yang membutuhkan. Wah, senangnya bisa naik bajaj di Padang Arafah.

 

Redaktur : Heri Ruslan
2.420 reads
Sesungguhnya seorang pemimpin itu merupakan perisai, rakyat akan berperang di belakang serta berlindung dengannya. Bila ia memerintah untuk takwa kepada Allah azza wa jalla serta bertindak adil, maka ia akan memperoleh pahala. Namun bila ia memerintah dengan selainnya, maka ia akan mendapatkan akibatnya.(HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda

  VIDEO TERBARU
Geliat Perkembangan Muslim Cina
Pemerintah Komunis berencana untuk membangun masjid di seluruh negeri. Hal ini, merupakan implementasi guna memenuhi tuntutan 20-an juta warga Muslim di negeri itu.Menurut...