Kamis, 29 Zulhijjah 1435 / 23 Oktober 2014
find us on : 
  Login |  Register

Masjidil Aqsha, Masjid Suci yang Kian Terancam

Rabu, 04 Mei 2011, 14:53 WIB
Komentar : 0
hotelsofjerusalem.com
Masjidil Aqsha, dimanipulasi Yahudi dengan Kubah Shakhrah.
Masjidil Aqsha, dimanipulasi Yahudi dengan Kubah Shakhrah.

REPUBLIKA.CO.ID, Selain Masjidil Haram di kota Makkah Al-Mukarramah dan Masjid Nabawi di kota Madinah Al-Munawwarah, Masjidil Aqsha di Palestina merupakan masjid utama ketiga dalam Islam. Masjid yang pernah menjadi kiblat ini termasuk dalam jajaran tujuan ziarah umat Islam usai menunaikan umrah, atau pada hari-hari biasa.

Dalam kitab suci Al-Qur'an telah menempatkan Masjidil Aqsha dalam kemuliaan, khususnya pada saat peristiwa Isra' Mikraj Nabi Muhammad Saw. “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Isra: 1)
 
Masjidil Aqsha tercatat sebagai salah satu masjid tertua dan memiliki nilai religius tinggi bagi umat Islam. Terdapat sejumlah hadits yang menegaskan bahwa Nabi Muhammad Saw dan para sahabat melaksanakan shalat dengan berkiblat ke Masjidil Aqsha ketika berada di Madinah.

Hal ini terus berlangsung selama enam belas bulan. Hingga suatu hari, turunlah surah Al-Baqarah ayat 144 yang memerintahkan kaum Muslimin agar memalingkan wajah (berkiblat) ke Masjidil Haram. “Di mana pun berada, palingkanlah mukamu ke arah itu.”

Rasulullah sendiri telah lama mendambakan turunnya perintah perubahan kiblat ini. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Rasulullah seringkali menengadahkan wajah ke langit, seraya berdoa agar turun wahyu yang memerintahkan menghadap ke Baitullah. Walau terjadi perpindahan kiblat, Islam tetap memuliakan Masjidil Aqsha. Tidak ada catatan pasti, siapa yang membangun Masjidil Aqsha dan kapan ia didirikan.

Terdapat beberapa riwayat tentang sejarah pembangunan Masjidil Aqsha. Namun berdasarkan hadits dari Abu Dzar, disebutkan bahwa Al-Aqsha adalah masjid kedua yang dibangun di bumi. Abu Dzar berkata, "Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama kali dibangun di bumi?' Rasulullah berkata, 'Masjidil Haram.' Aku berkata, "Lalu masjid apa?' Beliau berkata, 'Masjidil Aqsha.' Aku berkata, 'Berapa jarak antara keduanya?' Beliau berkata, 'Empat puluh tahun." (HR Bukhari)

Masjidil Aqsha disebut juga Bait Al-Muqaddas (Al-Quds) yang berarti rumah suci. Sedangkan pengertian Masjidil Aqsha adalah masjid terjauh. Atau oleh Nabi Muhammad Saw disebut juga masjid berkubah biru. Masjid ini terletak di kota Yerusalem Timur atau dikenal dengan nama wilayah Al-Haram Asy-Syarif bagi umat Islam.

Tahun 638 M, beberapa tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw, Khalifah Umar bin Khattab untuk pertama kalinya melakukan pengembangan Masjidil Aqsha. Pengembangan ini berlanjut sampai pada masa kepemimpinan Al-Walid (705 M).

Pada akhir abad ke-7, Khalifah Abdul Malik dari Bani Umayyah mempersiapkan pembangunan Kubah Shakhrah (Dome of the Rock). Kubah Shakhrah inilah yang kemudian diperkenalkan oleh Israel kepada dunia internasional sebagai Masjidil Aqsha untuk menipu umat Islam di seluruh dunia. Kubah Shakhrah ini terletak di wilayah yang sama dengan Masjidil Aqsha atau di area Al-Haram Asy-Syarif.

Tujuan utama media Yahudi menyamarkan Kubah Sakhrah (Dome of the Rock) sebagai Masjidil Aqsha adalah agar kaum Yahudi bisa menghancurkan Al-Aqsha dan membangun Solomon Temple (Kuil Sulaiman) pada bekas reruntuhan Al-Aqsha. Kaum Yahudi meyakini bahwa akan datang di akhir zaman seorang yang mereka anggap sebagai dewa penolong yang dinamakan “Al-Masih” (messiah), apabila mereka mengadakan ritual agama di Solomon Temple dengan mempersembahkan sapi betina berwarna merah.

Di samping menjadi tempat peribadatan umat Muslim, Masjidil Aqsha juga menjadi tempat penimbaan ilmu agama Islam baik Al-Qur'an maupun hadits. Imam Al-Ghazali merupakan salah satu ilmuwan besar Islam pada abad ke-11 yang memperdalam pengetahuannya di tempat ini.





Redaktur : cr01
Sumber : Dari berbagai sumber
Tidak ada pezina yang di saat berzina dalam keadaan beriman. Tidak ada pencuri ketika mencuri dalam keadaan beriman. Begitu pula tidak ada peminum arak di saat meminum dalam keadaan beriman.(HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Kemarau Panjang Akibatkan Turunnya Pasokan Air Jakarta, Ini Solusinya
JAKARTA -- Musim kemarau panjang di indonesia memiliki dampak terhadap penurunan debit air baku. Kepala Divisi Komunikasi dan Pertanggung Jawaban Sosial PT PAM...