Jumat, 18 Jumadil Akhir 1435 / 18 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Gua Hira, Di Sinilah Sejarah Islam Bermula

Jumat, 29 April 2011, 15:47 WIB
Komentar : 2
NET
Gua Hira di Jabal Nur selalu dikerubungi jamaah yang hendak ziarah.
Gua Hira di Jabal Nur selalu dikerubungi jamaah yang hendak ziarah.

REPUBLIKA.CO.ID, Hari itu, Senin 17 Ramadhan yang bertepatan dengan 6 Agustus 610 M—menurut Ibnu Sa‘ad dalam Al-Thabaqat Al-Kubra—kala Muhammad tengah khusyuk bertafakur, ia menerima wahyu pertama. “Bacalah, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al-Alaq: 1-5).

Saat itu pula Muhammad resmi dilantik sebagai Nabi dan Rasul-Nya. Saat menerima penobatan sebagai Nabi ini, usia Muhammad sekitar 40 tahun 6 bulan 8 hari menurut kalender Qamariyah atau 39 tahun 3 bulan 8 hari menurut almanak Syamsiyah. Kita tidak akan membahas tentang proses pengangkatan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul, namun membahas tempat di mana beliau bertahannuts dan mendapatkan wahyu, yakni Gua Hira.

Bagi sebagian kaum Muslimin, perjalanan ibadah haji bukan hanya sekedar menyempurnakan prosesi atau ritual sebagaimana diwajibkan atau disunnahkan syariat, tapi juga sebuah wisata religius. Salah satunya adalah dengan melakukan ziarah. Dan salah satu tempat ziarah yang paling diburu para jamaah haji atau mereka yang berumrah adalah Gua Hira yang terletak di Jabal Nur (Gunung Cahaya).

Gunung ini terletak sekitar enam kilometer sebelah utara Masjidil Haram. Sekitar lima meter dari puncak gunung, terdapat sebuah lubang kecil. Itulah yang disebut Gua Hira, di mana Nabi Muhammad Saw mendapat wahyu pertamanya.

Sedangkan tinggi puncak Jabal Nur kira-kira dua ratus meter, di sekelilingnya terdapat sejumlah gunung, batu bukit dan jurang. Letak Gua Hira di belakang dua batu raksasa yang sangat dalam dan sempit dengan ketinggian sekitar dua meter. Di bagian ujung kanan gua terdapat lubang kecil yang dapat dipergunakan untuk memandang kawasan bukit dan gunung arah Makkah.

Untuk menuju puncak gunung, seseorang rata-rata memerlukan waktu selama satu jam bahkan lebih dari dasar gunung. Medannya cukup sulit karena tidak ada titian tangga. Para peziarah harus mendaki melewati batu-batu terjal. Jalan bertangga hanya ditemukan setelah tiga perempat perjalanan. Namun menjelang puncak gunung, medannya sedikit ringan, peziarah bisa mendaki dengan santai.

Begitu tiba di depan pintu gua, terdapat tulisan Arab ‘Ghor Hira’ dengan cat warna merah. Di atas tulisan itu terdapat tulisan dua ayat pertama Surat Al-Alaq dengan cat warna hijau. Gua Hira terletak persis di samping kiri tulisan tersebut.

Panjang gua tersebut sekitar tiga meter dengan lebar sekitar satu setengah meter, dan ketinggian sekitar dua meter. Dengan luas dimensi seperti itu, gua ini hanya cukup digunakan untuk shalat dua orang. Di bagian kanan gua terdapat teras dari batu yang hanya cukup digunakan untuk shalat dalam keadaan duduk.
 
Dengan kondisi seperti itu, Gua Hira merupakan tempat yang ideal di Makkah bagi Muhammad untuk bertahannuts. Suasananya tenang, dan jauh dari keriuhan kota Makkah kala itu. Dan tentu saja, Muhammad telah mempertimbangkan dengan matang pemilihan gua ini sebagai tempatnya 'mencari' Tuhan.

Beliau juga telah memperbincangkan tempat itu dengan istrinya, Khadijah binti Khuwailid. Oleh sebab itu, terkadang di malam yang pekat, Khadijah beberapa kali mengunjungi Muhammad. Dapat dibayangkan bagaimana beratnya medan yang ditempuh Khadijah Al-Kubra saat itu, ketika mengunjungi suaminya di Gua Hira.

Saking vitalnya peran Gua Hira dalam sejarah Islam, salah seorang pakar sejarah Islam asal Mesir, Husain Mu’nis, mengatakan Gua Hira layak disebut sebagai masjid pertama dalam sejarah Islam. "Gua Hira, tak pelak lagi, merupakan masjid yang pertama-tama dalam Islam. Di gua itu Rasulullah melaksanakan shalat, bertahannuts, dan menyembah Allah sebelum beliau menerima wahyu," ujarnya.

Bagaimanapun jua, walau tak harus menyebut Gua Hira sebagai masjid pertama di dunia, namun peran vitalnya sebagai tempat diturunkannya wahyu pertama kali, menjadikannya sebagai tujuan ziarah yang selalu dikerubuti jamaah.

Redaktur : cr01
Sumber : Dari berbagai sumber
Rasulullah SAW melaknat tukang pemberi suap, menerima suap, dan menjadi perantara diantaranya(HR Tirmidzi)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar
  dony.haryadi Sabtu, 29 September 2012, 20:42
Mudah2an aku bisa sampai kesana dan semoga allah memberi kesehatan jasmani & rohani...............amin.
  sugeng Trimo Jumat, 8 Juni 2012, 17:40
aku trsentuh dengan pengalamanmu doakan aku agar aku dapat menyusul ke Mekah
  eko prabowo Rabu, 25 Januari 2012, 17:36
semoga saya dapat pergi kesana dan semoga Allah mengampuni segala dosa2 saya
  wahyuwe Senin, 19 Desember 2011, 12:58
anaikata tulisan ini dilengkapi dgn foto 2 yg lengkap alangkah sangat membantunya bagi pembaca SIAPA MAU MELENGKAPI FOTO 2NYA. SEMOGA JADI AMAL KEBAIKAN DAN MENDAPAT HARAPAN SORGA >AMIN
  rahma Selasa, 6 September 2011, 19:10
subhanallah...saya lahir menurut kalender islam hari senin tgl 17 ramadhan... berarti bertepatan dengan turun'a islam :) alhamdulillah semoga iman islam saya makin kuat dan Allah memberikan kemudahan bagi saya untuk berhaji...amiiinn ya robal alamin

  VIDEO TERBARU
Mahathir Kunjungi Mega, Mahathir: Mega Sahabat Lama Saya
JAKARTA -- Mantan perdana menteri Malaysia, Mahathir Mohamad mengunjungi kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar Nomor 27A, Menteng, Jakarta Pusat (14/4). Berikut video...