Wednesday, 1 Zulqaidah 1435 / 27 August 2014
find us on : 
  Login |  Register

Sejarah Tarekat Shiddiqiyyah (2)

Monday, 16 July 2012, 06:21 WIB
Komentar : 1
blogspot.com
Ilustrasi
Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Dhofier hanya mencatat Tarekat Shiddiqiyyah muncul untuk pertama kalinya pada 1958 di sebuah desa bernama Losari yang berada di Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Menurut Dhofier, tarekat ini tidak ada di negara lain.

Dhofier menambahkan, kekurangan penelitian tentang tarekat ini disebabkan oleh beberapa faktor.

Pertama, tarekat ini tidak diklasifikasikan sebagai mu'tabarah (diakui-Red) dan tidak terlibat dalam jaringan budaya Nahdlatul Ulama (NU) yang ada di Jombang, karenanya mungkin dianggap oleh beberapa orang tidak penting.

Kedua, tarekat ini terkesan sangat eksklusif (tertutup). Kesan eksklusivitas itu diakui oleh banyak orang di Jombang.

Sembilan ulama

Namun, sejumlah sumber sejarah menyebutkan masuknya Tarekat Shiddiqiyyah ke nusantara dibawa oleh sembilan ulama Shiddiqiyyah dari negeri Irbil (Irak sekarang). Para ulama ini berlabuh pertama kali di wilayah Cirebon, Jawa Barat, kemudian menyebar ke seluruh Pulau Jawa.

Satu di antara sembilan orang ulama tersebut adalah seorang wanita bernama Syarifah Baghdadi. Makamnya hingga kini masih bisa ditemui di Cirebon. Sementara sebagian besar dari sembilan ulama itu wafat dan dimakamkan di Pandeglang, Banten.

Mereka, antara lain Maulana Aliyuddin, Maulana Malik Isroil, Maulana Isamuddin, dan Maulana Ali Akbar. Sedangkan Maulana Jumadil Kubro, menjadi satu-satunya di antara sembilan orang ulama ini yang wafat di Jawa Timur dan dimakamkan di Troloyo, Mojokerto.

Mursyid Tarekat Shiddiqiyyah saat ini adalah Syekh Muhammad Muchtar bin Abdul Mu'thi Muchtarullah Al-Mujtaba. Ia mulai mengajarkan Tarekat Shiddiqiyyah sejak 1954, setelah memperoleh izin dan perintah dari mursyidnya, Syekh Ahmad Syuaib Jamali Al-Banteni, yang pergi ke luar negeri.

Mengenai sosok mursyid Tarekat Shiddiqiyyah ini, Dhofier menggambarkannya sebagai orang yang bisa menyembuhkan penyakit tertentu. Selain itu, menurut dia, sosok Syekh Muchtar juga dianggap kontroversial dalam kaitannya dengan shalat Jumat.



Reporter : Nidia Zuraya
Redaktur : Chairul Akhmad
Sesungguhnya seorang pemimpin itu merupakan perisai, rakyat akan berperang di belakang serta berlindung dengannya. Bila ia memerintah untuk takwa kepada Allah azza wa jalla serta bertindak adil, maka ia akan memperoleh pahala. Namun bila ia memerintah dengan selainnya, maka ia akan mendapatkan akibatnya.(HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Jakarta Butuh Ketahanan Air
JAKARTA -- Air baku di Jakarta semakin tak berimbang dengan kebutuhan masyarakatnya. Herawati Prasetyo, Wakil Presiden Direktur Palyja mengatakan Rabu (27/8), selama ini...