Friday, 7 Muharram 1436 / 31 October 2014
find us on : 
  Login |  Register

Sejarah Tarekat Shiddiqiyyah (1)

Saturday, 14 July 2012, 19:20 WIB
Komentar : 1
blogspot.com
Ilustrasi
Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Tarekat Shiddiqiyyah adalah salah satu dari sekian banyak tarekat yang berkembang di seluruh dunia. Konon, tarekat ini sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW, meskipun pada masa itu belum menggunakan nama Tarekat Shiddiqiyyah.

Menurut Mursyid Tarekat Shiddiqiyah di Indonesia, KH Muhammad Muchtar bin Abdul Mu'thi, nama tarekat ini berasal dari gelar yang diberikan Rasulullah SAW kepada sahabat Abu Bakar, yaitu Ash-Shiddiq, ketika Rasul menceritakan pengalamannya seusai melaksanakan perjalanan Isra dan Mikraj kepada penduduk Makkah, kala itu.

Di saat kafir Quraisy mendustakan peristiwa Isra dan Mikraj, hanya Abu Bakar yang pertama kali memercayai kejadian yang dialami Rasul SAW itu.

Rasulullah bersabda, ''Semasa aku diisrakan, aku hendak keluar untuk menyampaikan berita itu kepada kaum Quraisy, kemudian aku ceritakan kepada mereka dan mereka mendustakannya. Sementara yang membenarkan peristiwa itu adalah Abu Bakar. Maka, pada hari itu ia kuberi gelar Ash-Shiddiq.''

Karena itu, banyak yang meyakini bahwa ajaran tarekat ini diturunkan langsung dari Nabi Muhammad SAW melalui sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq. Kendati demikian, tidak ada sumber sejarah yang menyebutkan kapan tepatnya Abu Bakar menerima ijazah tarekat ini.

Meski diyakini berasal langsung dari Nabi Muhammad SAW, namun keberadaan Tarekat Shiddiqiyyah sekarang ini di luar Indonesia sudah punah. Menurut Martin van Bruinessen dalam bukunya yang berjudul Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat, Tradisi-tradisi Islam di Indonesia, Tarekat Shiddiqiyyah merupakan tarekat lokal (Indonesia-Red), sehingga tidak banyak orang yang mengetahui tentang keberadaan tarekat ini.

“Dan saat ini, satu-satunya tempat berkembangnya ajaran Tarekat Shiddiqiyyah hanyalah di Indonesia yang berpusat di wilayah utara Jombang, Jawa Timur,” tulis Martin.

Peneliti seperti Zamakhsyari Dhofier dalam tulisannya yang bertajuk The Pesantren: The Role of the Kyai in the Maintenance of Traditional Islam in Java, mengatakan asal-usul tarekat ini tidak jelas.




Reporter : Nidia Zuraya
Redaktur : Chairul Akhmad
Siapa yang mengambil hak orang lain walau sejengkal tanah akan dikalungkan hingga tujuh petala bumi(HR Bukhori-Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Karya Seni Sebagai Media Dakwah
JAKARTA -- Seni dan agama kerap dipandang sebagai sesuatu yang bertolak belakang. Akan tetapi menurut Ustaz Erick Yusuf, seni dan agama memiliki koherensi...