Senin, 2 Safar 1436 / 24 November 2014
find us on : 
  Login |  Register

Makna Esoteris Isra Mikraj (2)

Selasa, 03 Juli 2012, 16:50 WIB
Komentar : 1
Blogspot.com
Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar

Surah Al-Isra sering dianggap sebagai jembatan (wasilah/bridging) yang menjembatani antara kecerdasan rasional dan kecerdasan spiritual.

Peristiwa Isra ialah perjalanan horizontal dari Baitullah, Makkah, ke Masjidil Aqsha, Palestina, dan Mikraj ialah perjalanan vertikal dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha.

Perjalanan Isra mungkin masih bisa dijelaskan dengan logika dengan menghubungkannya dengan kendaraan supersonic yang berkekuatan supercepat, namun Mikraj hanya bisa didekati dengan iman.

Pertanyaan yang mengusik di dalam ayat di atas, mengapa Allah SWT memperjalankan hamba-Nya di malam hari (lailan), bukan di siang hari (naharan). Dalam bahasa Arab kata lailah mempunyai beberapa makna.

Ada makna literal berarti malam, lawan dari siang. Makna alegoris seperti gelap atau kegelapan, kesunyian, keheningan, dan kesyahduan; ada makna anagogis (spiritual), seperti kekhusyukan (khusyu’), kepasrahan (ta wak kal), kedekatan (taqarrub) kepada Ilahi.

Dalam syair-syair klasik Arab, ungkapan lailah lebih banyak digunakan makna alegoris (majaz) ketimbang makna literalnya, seperti ungkapan syair seorang pengantin baru: Ya laila thul, ya shubh qif (wahai malam bertambah panjanglah, wahai Subuh berhentilah).

Kata lailah di dalam bait itu berarti kesyahduan, keindahan, kenikmatan, kehangatan, ketenangan, kerinduan, keakraban, sebagaimana dirasakan oleh para pengantin baru, yang menyesali pendeknya malam.

Dalam syair-syair sufistik juga lebih banyak menekankan makna anagogis kata lailah. Para sufi lebih banyak menghabiskan waktu malamnya untuk mendaki (taraqqi) menuju Tuhan. Mereka berterima kasih kepada lailah (malam) yang selalu menemani kesendirian mereka.

Perhatikan ungkapan Imam Syafi’i: Man thalab al-ula syahir al-layali (barangsiapa yang mendambakan martabat utama banyaklah berjaga di waktu malam). Kata al-layali di sini berarti keakraban dan kerinduan antara hamba dan Tuhannya.

Tidak ada pezina yang di saat berzina dalam keadaan beriman. Tidak ada pencuri ketika mencuri dalam keadaan beriman. Begitu pula tidak ada peminum arak di saat meminum dalam keadaan beriman.(HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Keren, Ada Aplikasi untuk Mengatur Usaha Kecil Anda
NEW YORK -- Baru-baru ini, jaringan kedai kopi Starbucks mengklaim unggul dalam pembayaran lewat aplikasi ponsel dengan 7 juta transaksi seminggu. Tetapi UKM...