Jumat, 5 Syawwal 1435 / 01 Agustus 2014
find us on : 
  Login |  Register

Ta'abbud dan Isti'anah (3-habis)

Selasa, 12 Juni 2012, 21:26 WIB
Komentar : 0
Blogspot.com
Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar

Isti'anah ialah anugerah yang diturunkan Tuhan sebagai balasan dari berbagai bentuk pengabdian kepada-Nya. Penempatan isti'anah setelah ta'abbud mengisyaratkan bahwa tidak ada isti'anah tanpa diawali ta'abbud.

Artinya, seseorang yang mengharapkan pertolongan Tuhan harus diawali terlebih dahulu dengan ta'abbud. Hanya hamba yang menemukan jalan dan konsisten menjalani jalan itu yang bisa mendapatkan isti'anah.

Dalam melaksanakan ta'abbud, manusia harus memerhatikan beberapa hal. Salah satu di antaranya ialah keikhlasan. Sebab, ta'abbud tidak bisa mencapai puncak jika dipadati dengan riya, dosa, dan egosentrisme.

Isti'anah adalah akibat yang diperoleh melalui usaha ta'abbud yang sejati. Kesejatian ta'abbud dapat diukur melalui tingkat keikhlasan dan kekhusyukan ta'abbud itu sendiri.

Ta'abbud terkait dengan interaksi positif antara abid, Ma'bud, dan ibadah. Abid ialah orang yang bersungguh-sungguh bermaksud mendekatkan diri kepada Allah SWT, Ma'bud tidak lain ialah Allah SWT, dan ibadah ialah tata cara yang mengatur hubungan interaktif antara manusia sebagai abid dan Tuhan sebagai Al-Ma'bud. Ketentuan yang men jadi rambu-rambu antara 'abid dan ma'bud itulah ibadah.

Iyyaka na'bud wa iyyaka nasta'in menggunakan kata ganti jamak (dhamir). Menurut Muhammad bin Ibrahim Shadruddin Al-Dzairazi, penggunaan kata jamak (na'bud-nasta'in) selain untuk mengagungkan Allah SWT yang disembah, juga berarti penghambaan manusia secara total terhadap Tuhannya.

Pada diri seseorang berlapis-lapis kenyataannya substansi manusia. Ada orang lebih menonjolkan kapasitas dirinya sebagai pejabat, kaya, berpangkat tinggi, dan ada juga lebih menekankan kapasitas dirinya sebagai bagian dari makhluk spiritual.

Ada pula yang melakukan peribadatan lebih menekankan pada aspek psikologis yang sangat pribadi dan sebagian lainnya menekankan aspek sosiologis yang lebih permisif terhadap lingkungan sosialnya.

Di dalam diri kita, juga sesungguhnya terdiri atas unsur yang berlapis-lapis, yaitu jiwa, raga, dan roh. Keseluruhan unsur itu serentak menyembah dan menyerahkan sepenuh dirinya kepada Allah SWT.

Dengan demikian, ta'abbud isti'anah seperti kata majemuk yang tak bisa dipisahkan satu sama lain. Pada saat yang bersamaan, antara abid, Ma'bud, dan 'ibadah juga tidak bisa dipisahkan. Tidak ada abid tanpa ada Ma'bud dan tidak ada arti abid tanpa ibadah. Demikian pula dengan ta'abbud dan isti'anah, selalu berhubungan dengan abid dan Ma'bud. Wallahu a'lam.



“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu sesudah meneguhkannya….”(QS An-Nahl: 91)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
ISIS Luncurkan Video Ajakan Jihad
 JAKARTA -- Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS meluncurkan video dengan maksud meminta dukungan kepada warga Indoensia. Dalam video yang diunggah ke youtube tersebut,...