Kamis, 24 Jumadil Akhir 1435 / 24 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Tingkatan Alam Menurut para Sufi? (4-habis)

Sabtu, 26 Mei 2012, 01:01 WIB
Komentar : 0
Blogpspot.com
Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar

Kalau di alam syahadah, mutlak seperti alam-alam dunia mengalami proses evolusi untuk mencapai derajat utama.

Misalnya, mineral yang berupa tanah, batu, logam, perak, sampai kepada logam mulia seperti emas yang nilainya pasti lebih tinggi dibanding mineral lainnya dalam alam tumbuh-tumbuhan, alam hewan, dan manusia demikian pula adanya.

Untuk menjadi logam mulia, sudah tentu harus melalui proses panjang. Demikian pula untuk menjadi batu permata juga harus melalui perjuangan panjang. Inilah analogi transmutasi evolusioner benda-benda alam syahadah yang pernah diungkap oleh seorang sufi sekaligus ahli kimia bernama Jabir bin Hayyan.

Penyair besar dan sufi Muslim, Jalaluddin Rumi, juga menjelaskan bahwa hubungan Al-Haq (Allah SWT) dengan alam-alam tersebut adalah hubungan cinta. Menurut Rumi, sebagaimana dikutip Prof Mulyadi, pergerakan, perputaran, dan thawafnya alam raya ini adalah reaksi dari pesona gelombang cinta Tuhan.

Mereka berputar laksana Sang Pencipta mabuk kepayang untuk berjumpa dengan kekasihnya. Mungkin ini yang menginspirasi Rumi menciptakan tarian sufi yang dikenal dengan Whirling Dervish.

Dalam level alam manusia juga mempunyai logika yang sama jika ia ingin mencapai martabat utama (maqaman mahmuda), sebagaimana disebutkan dalam Alquran, “Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra: 79).

Manusia juga harus menempuh diri dengan berbagai riyadhah dan mujahadah hingga mencapai posisi jiwa yang bersih (illuminated), selanjutnyaa mampu menembus batas-batas hijab. Jika hijab sudah tersingkap, mukasyafah terjadi.

Jika itu terjadi, wilayah alam gaib menjadi berkurang karena alam barzakh sudah dapat diakses. Rupanya, inilah rahasia hadis Nabi, “Mutu qabla antamutu (matilah sebelum kalian mati yang sebenarnya).”

Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, (( QS.An Anfaal 8 : 53 ))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Tokoh Perubahan 2013, Inspirasi Indonesia
JAKARTA -- Republika menganugerahkan gelar Tokoh Perubahan 2013 kepada beberapa tokoh yang memberi inspirasi pada Indonesia. Untuk tahun ini tokoh yang mendapat gelar...